Dalam “Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT,” poin 1-6, teologi penciptaan, khususnya fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1-2) dijadikan acuan untuk seruan pastoralnya supaya kita menghindari “segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah” (Poin 3). Secara implikasi, semua bentuk abuses ini merupakan kontradiksi terhadap teologi penciptaan. Tidak ada alasan untuk membantah penarikan implikasi seperti ini. Saya setuju dengan poin ini!

Tetapi, yang mengherankan adalah, PGI cukup awas untuk melihat implikasi penting di atas, namun tidak melihat implikasi apa pun soal LGBT dalam teologi penciptaan, seperti yang ditulis PGI berikut ini:

Pesan utama ceritera penciptaan Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28; 2:18, 21-24), misalnya, adalah tentang cikal bakal terjadinya institusi keluarga dan bahwa manusia diberi tanggungjawab untuk memenuhi dan memelihara bumi. Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBT. (Poin 6).

PGI menggunakan kalimat yang licin, “Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBT.” Well, benar di dalam original contextnya, narasi Kejadian 1-2 memang tidak berbicara mengenai LGBT. Demikian pula narasi Kejadian 1-2 tidak berbicara mengenai segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi, dan penindasan di dalam original context-nya. Kejadian 1-2 berbicara tentang kondisi di mana dosa belum terjadi yang nantinya mendatangkan malapetaka bersama segala kekacauan di dalam dunia milik Tuhan (Kej. 3dst.

Pertanyaannya adalah siapa yang menyatakan bahwa di dalam konteks originalnya, Kejadian 1-2 (teologi penciptaan) berbicara mengenai LGBT? PGI sedang menyerang “orang-orangan jerami” (straw men) di sini!

Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan jenis kelamin yang jelas ini kemudian menjadi dasar untuk ordinansi pernikahan, yaitu pernikahan laki-laki dan perempuan. Ordinansi pernikahan ini secara logis mengantisipasi mandat multiplikasi, yaitu “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi” (Kej. 1:26-28). Termasuk juga menjadi dasar dari perilaku seks yang kudus, yaitu hubungan seks antara pria dan wanita dalam koridor pernikahan.

Menariknya, dalam Kejadian 3, Iblis bukan hanya skeptis dan memutarbalikan firman Allah (“Tentunya Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya?” – ay. 1), melainkan juga berkontradiksi dengannya (“Sekali-kali kamu tidak akan mati” – ay. 4). Bahkan Iblis memberikan penafsiran alternatif yang kelihatannya menyenangkan manusia, namun sama sekali berisi kebohongan (“Tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” – ay. 5). Segala penafsiran yang dimulai dari skeptsisime terhadap firman Allah, mengandung kontradiksi, half-truth (separoh benar), adalah penafsiran yang harus ditolak. Sesat pikir kaum Liberalis masa kini adalah mereka menyamakan kepakaran dengan skeptisisme!

Penafsiran PGI poin 1-6 bertentangan dengan teologi penciptaan dalam Kejadian 1-2 dan berisi penafsiran alternatif yang menyenangkan kaum LGBT tetapi penafsiran alternatif itu mengasumsikan hasil tafsiran kontradiktif tersebut!

Jadi, saya percaya Kekristenan harus menolak LGBT sebagai sesuatu yang salah secara moral, karena secara implikasi, LGBT berkontradiksi dengan teologi penciptaan dalam Kejadian 1-2 di atas. Sama seperti Kekristenan menolak poligami dan poliandri karena praktik-praktik ini merupakan kontradiksi terhadap teologi penciptaan di atas.