Sampai saat ini, beragam pendekatan terhadap Kitab Wahyu yang kita kenal (preteris, futuris, historisis, dan idealis) tak satu pun memadai untuk memahami Kitab Wahyu secara komprehensif. Itulah sebabnya, saya percaya bahwa untuk memahami Kitab Wahyu, diperlukan pendekatan eklektik (gabungan dari pendekatan-pendekatan ini).

Meski demikian, di samping ada kontribusi-kontribusi spesifik dari setiap pendekatan di atas berikut kelemahan-kelemahannya, ada aspek-aspek interpretif dari pendekatan-pendekatan di atas yang sudah pasti tidak mungkin bisa digunakan untuk memahami Kitab Wahyu.

Salah satu aspek interpretif yang termasuk di dalam ketidakmungkinan yang saya maksudkan di atas adalah apa yang disebut dengan newspaper exegesis atau newspaper approach atau “pendekatan surat kabar“. 

Pendekatan surat kabar” percaya bahwa peristiwa-peristiwa masa kini seperti yang diberitakan dalam berbagai media, merupakan kunci untuk menentukan penggenapan dari nubuat-nubuat mengenai akhir jaman yang ada dalam Kitab Wahyu. Misalnya, saya sering mendapat sejumlah tag dari beberapa teman mengenai “pemasangan chip”, atau “fenomena cashless“, atau “situasi yang terjadi di Israel masa kini”, dsb. Mereka percaya bahwa peristiwa-peristiwa ini adalah indikasi-indikasi jelas mengenai akhir jaman yang sudah dekat. Biasanya juga disertai dengan peringatan mengenai tribulasi (masa kesusahan besar) dan pengangkatan (rapture).

Saya kira, pendekatan surat kabar mendapat banyak pengikut di berbagai Gereja di Indonesia.

Sebenarnya sejumlah pakar Kitab Wahyu sudah memperlihatkan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan untuk menggunakan pendekatan surat kabar dalam memahami Kitab Wahyu. Dalam tulisan ini, saya akan merangkum beberapa di antaranya sebagai berikut:

Pertama, Craig S. Keener menyatakan bahwa pendekatan di atas mengabaikan sebuah prinsip penting (dan harus!) dalam menafsirkan seluruh kitab di dalam Alkitab, yaitu bahwa setiap kitab memiliki pesan yang berhubungan langsung dengan para pembaca pertama kitab tersebut. Jika, kunci untuk menafsirkan Kitab Wahyu terletak pada peristiwa-peristiwa kontemporer seperti yang diberitakan dalam berbagai media, maka ini sama saja dengan menyatakan bahwa para pembaca pertama Kitab Wahyu sampai dengan generasi-generasi sebelum kita saat ini, tidak dapat memahami Kitab Wahyu dan bahkan bagian-bagian di dalamnya tidak mengandung pesan bagi mereka sama seperti bagi kita saat ini. Generasi-generasi sebelum kita saat ini, jika pendekatan surat kabar benar, tidak dapat membaca Kitab Wahyu sebagai Kitab Suci yang bermanfaat untuk pengajaran dan koreksi (2Tim. 3:16-17). Maka Keener menyimpulkan bahwa pendekatan surat kabar bertentangan dengan doktrin mengenai otoritas Alkitab (Revelation; NIVAC).

Kedua, J. Scott Duvall dan J. Daniel Hays menyatakan bahwa pendekatan surat kabar mengasumsikan bahwa kita yang hidup saat ini dan di sini merupakan generasi Kristen yang terakhir menjelang kedatangan Kristus yang kedua kalinya (parousia). Asumsi seperti ini telah melahirkan banyak spekulasi mengenai kapan persisnya Yesus akan datang kembali dan juga yang telah berkali-kali terbukti salah. Lagi pula, atas dasar apa kita percaya bahwa kita yang hidup sekarang merupakan generasi terakhir menjelang parousia? Bagaimana jika Yesus baru datang pada tahun 4000 atau tahun 70000? Siapa yang tahu?! (Grasping God’s Word: A Hands-On Approach to Reading, Interpreting and Applying the Bible).

Dan ketiga, Larry R. Helyer dan Richard Wagner menyatakan bahwa pendekatan surat kabar sepenuhnya merupakan spekulasi tanpa dasar. Helyer dan Wagner mengingatkan bahwa dalam sejarah penafsiran terhadap Kitab Wahyu, pasca PB setiap generasi yang mendeklarasikan persitwa-peristiwa tertentu sebagai penggenapan dari bagian-bagian tertentu dalam Kitab Wahyu, hanya terbukti salah pada akhirnya (The Book of Revelation for Dummies).

Dan pendekatan surat kabar, secara implikasi, merupakan sejenis kebebalan interpretif yang menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan ini! Saya berharap, tulisan singkat ini cukup untuk meyakinkan siapa pun yang membiarkan dirinya “bercumbu” dengan pendekatan surat kabar untuk segera meninggalkannya. Pendekatan ini adalah sebuah kebebalan interpretif dan seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, merupakan sebuah ketidakmungkinan interpretif!