Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: 2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. 5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2Tim. 4:1-5)

Yohanes 6:1-15 mengisahkan tentang Yesus memberi makan lima ribu orang. Kelihatannya, Yesus melakukan sebuah pelayanan yang “menarik” dan “memenuhi kebutuhan mereka,” sehingga bahkan mereka berupaya “dengan paksa menjadikan Dia raja” (ay. 15). Tetapi dalam ayat ini juga dikatakan Yesus menarik Diri-Nya dari mereka. Sama seperti Yohanes 2:22-23, Yesus tidak mempercayakan Diri-Nya kepada orang-orang seperti ini.

Mereka bahkan menggunakan perahu-perahu untuk mencari Yesus; sebuah fenomena mengikut Yesus dengan sangat antusias (Yoh. 6:22-24). Tetapi Yesus kemudian berterus-terang kepada mereka, menelanjangi isi hati mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh. 6:26).

Yesus lalu mulai mengajar tentang “roti hidup“, tentang “makan daging-Ku” dan “minum darah-Ku“, dan orang-orang yang tadinya dengan antusias mencari serta mendatangi Yesus itu pun meninggalkan Dia (Yoh. 6:60-66).

Fenomena di atas, saya sebut dengan “penyakit telinga gatal“. Orang-orang dengan penyakit telinga gatal adalah orang-orang yang kelihatannya mengikut Tuhan, antusias mencari Yesus, berduyun-duyun datang, tetapi mereka bukan datang untuk mendengar pengajaran yang benar. Mereka datang untuk mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukan apa yang harus mereka dengar. Orang-orang seperti ini, ketika telinga mereka tidak digaruk, mereka akan menciptakan seribu satu macam alasan untuk meninggalkan Gereja.

Menariknya, Yesus tidak merasa harus “menggaruk telinga mereka” bahkan Yesus tidak berinisiatif sedikit pun untuk menahan orang-orang seperti ini untuk pergi. Yesus bahkan menantang para murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh. 6:67). Perhatikan jawaban Petrus, sebuah jawaban yang mengintonasikan komitmen seorang murid yang sejati: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh. 6:68-69).

Penyakit telinga gatal seperti di atas, bukan hanya ada pada masa Yesus, melainkan juga merupakan tendensi umum dari manusia sampai sekarang. Dan orang-orang seperti ini bahkan ada di Gereja. Itulah sebabnya, menjelang akhir hidupnya, kepada seorang Gembala muda yang ia bina dan didik sebagai anak rohaninya, Paulus memberi nasihat kepada Timotius seperti yang tercantum dalam 2 Timotius 2:1-4.

Kecenderungan di atas bukan hanya berbahaya bagi diri mereka sendiri, melainkan berpotensi membuat seorang pemberita firman mengkompromikan ajarannya demi menggaruk telinga mereka yang gatal.

Sedemikian pentingnya ajaran yang sehat (sound doctrine) itu, maka Paulus membahasakannya dengan beberapa ungkapan yang sangat serius: “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus,” juga “aku berpesan dengan sungguh-sungguh” bahkan “demi penyataan-Nya dan demi kerajaan-Nya“. Ini bukan sebuah nasihat yang sepele. Nasihat ini berhubungan langsung dengan inti dan nilai tugas pelayanan Timotius sebagai seorang gembala, yaitu memberitakan firman kebenaran!

Nasihat Paulus mengimplikasikan bahwa bahkan ketika Timotius harus berhadapan dengan orang-orang berpenyakit telinga gatal seperti di atas, ia tidak boleh berubah; ia tidak boleh bergeser; ia tidak boleh mengkompromikan ajaran yang sehat hanya untuk menyenangkan mereka – menggaruk telinga mereka yang gatal.

Timotius sebagai seorang gembala tidak dipanggil untuk menggaruk telinga-telinga yang gatal, melainkan untuk memberitakan firman, selalu siap sedia, baik atau tidak baik waktunya. Dengan kata lain, baik mereka suka atau tidak suka, firman harus diberitakan dengan tepat, dengan akurat dan dengan demikian pelayanan pemberitaan firman itu layak di hadapan Allah dan tidak mempermalukan pelayanan serta Allah sendiri (2Tim. 2:15).

Penyakit telinga gatal bukanlah sebuah penyakit yang sepele. Sebab yang mereka tolak bukanlah Timotius sebagai pemberita firman, melainkan yang mereka tolak adalah “ajaran yang sehat” (2Tim. 4:3), bahkan “memalingkan telinga mereka dari kebenaran” (2Tim. 4:4). Mereka lebih suka mencari pengajar-pengajar yang menggaruk telinga mereka, yaitu “mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya dan memuaskan keinginan telinganya” (2Tim. 4:3).

Perhatikan bahwa inti dari penyakit telinga gatal di atas kemudian kalau telinga mereka tidak digaruk lalu menciptakan berbagai alasan untuk meninggalkan Gereja, bukan karena ajaran kebenaran itu terlalu rumit. Intinya ada pada karakter: mereka tidak suka mendengar kebenaran; mereka suka mendengar hal-hal yang menyenangkan telinga mereka dan yang cocok dengan kehendak mereka. Menghadapi kecenderungan di atas, Paulus sungguh-sungguh mengingatkan Timotius: “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2Tim. 4:5).

Timotius harus tetap teguh memberitakan firman yang harus diberitakan, bukan memberitakan sesuatu yang ingin orang dengar. Merupakan sebuah imperatif (perintah) yang mutlak bagi seorang pelayan Tuhan, seorang pemberita firman untuk tetap setia memberitakan kebenaran terlepas dari orang suka dengar atau tidak suka dengar. Dan pada saat yang sama, kita pun harus terus mengevaluasi diri untuk tidak jatuh ke dalam perangkap “pelayanan menggaruk telinga-telinga yang gatal“.

Sebab ketika pelayanan dan pemberitaan firman sudah mulai cenderung dilakukan untuk menjadi penggaruk telinga-telinga gatal, plain and simple, it is not a genuine ministry anymore (itu bukan lagi pelayanan yang sejati)!