Nama Karl Barth bukanlah nama yang “menyenangkan” bagi mayoritas kaum Injili dan Reformed. Meski Barth sendiri menyebut dirinya bahkan teologinya dengan sebutan “Injili”. Saya memahami itu dengan baik, khususnya ketika kita berbicara mengenai orthodoksi.

Terlepas dari itu, saya melihat bahwa kita dapat belajar sesuatu yang baik dari Barth sebagai seorang pastor (gembala). Dan hal ini menjadi semakin menarik ketika kita memahami konteks di mana Barth hidup dan melayani.

Pada era tahun 1930an, kita mengetahui bahwa anti-Yudaisme begitu menguat di Jerman. Hitler mempropagandakan hal ini dan tidak sedikit orang-orang Kristen yang setuju dengan Hitler pada masa itu. Sebuah propaganda yang berujung genosida terhadap jutaan nyawa orang Yahudi di Jerman pada masa Hitler.

Pada suatu hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 Desember 1933, Barth berkhotbah di University Church di Bonn. Ia berkhotbah dari Roma 15:5-13 lalu mengaitkannya dengan Yohanes 3:16. Di dalam khotbahnya, Barth menandaskan bahwa Kristus adalah orang Yahudi. Itu tidak bisa disangkali. Kematian Kristus sebagai korban pengganti bagi manusia, juga mencakup orang-orang Yahudi di dalamnya.

Bukan hanya itu, Barth bahkan mengirimkan salinan naskah khotbahnya kepada Hitler. Barth kemudian menerbitkan jurnal “Theological Existence Today,” untuk menjelaskan latar belakang dari khotbahnya secara detail.

Di dalam khotbah maupun publikasi di atas, Barth secara eksplisit menuding Hitler bersama dengan orang-orang Kristen yang mendukungnya saat itu, telah mengkhianati pewahyuan Allah seperti yang tercatat di dalam PL maupun PB.

Saat Barth menyampaikan khotbah di atas, tidak sedikit orang Kristen yang mendengarnya tidak senang terhadapnya. Bahkan ada yang melangkah keluar dari ibadah hanya karena tidak suka mendengar penandasan-penandasan Barth mengenai keyahudian Yesus dan bahwa Allah mengasihi seisi dunia termasuk orang-orang Yahudi.

Tidak berapa lama kemudian, Barth menerima sebuah surat dari salah seorang jemaat yang berisi protes terhadap isi khotbahnya. Barth membalas surat itu hanya dengan satu kalimat sederhana: “It was in the text!” (“Itu ada di dalam teks!”).

Dan memang, Barth mengakhiri hidupnya kemudian sampai sekarang diingat dalam sejarah Kekristenan sebagai tokoh yang sangat kuat menekankan khotbah eksegetis. Bagi Barth, khotbah eksegetis adalah khotbah yang lahir dari penggalian yang serius terhadap teks Alkitab dan khotbah yang dirumuskan serta disampaikan tepat sesuai dengan yang dinyatakan dalam teks yang mendasari khotbah tersebut. Barth menyatakan,

Prayer without study would be empty; study without prayer would be blind. [Doa tanpa studi adalah kosong; studi tanpa doa adalah buta].

Pertanyaan untuk direnungkan:

1. Apakah khotbah Anda hari ini berasal dari penggalian terhadap teks Alkitab, atau Anda membaca sebuah teks dari Alkitab, tidak memedulikannya, dan mulai ngalor-ngidul bicara tentang hal-hal yang tidak berhubungan dengan teks itu sendiri?

2. Apakah khotbah Anda cukup setia terhadap teks, sehingga bahkan ketika Anda mendapati bahwa isi khotbah yang mengalir keluar dari teks yang mendasarinya itu akan mendatangkan reaksi penolakan, namun Anda tidak mundur sebagai mana jawaban Barth: “It was in the text“?