Mitos tentang Konsili Nicea beredar luas di kalangan non-Kristen, terutama di kalangan Islam (dan ironisnya mereka mempercayainya sungguh-sungguh; mereka memang tidak terbiasa belajar, hanya seperti burung yang disuap!). Mitos itu adalah bahwa Konsili Nicea (325 M) merupakan titik sauh di mana Yesus diangkat menjadi Tuhan. Menurut mitos ini juga, ketika Kaisar Konstantinus menjadikan Kekristenan sebagai agama negara, orang-orang Kristen menggunakan kekuasaan politik untuk menyingkirkan lawan-lawan mereka. Dan ketuhanan Yesus dideklarasikan saat itu, seakan-akan Yesus baru jadi Tuhan pada tahun 325 M.
 
Mitos di atas paling sering didengungkan oleh Insan Mokoginta dan Irena Handono, dua pseudo-historians (sejarahwan palsu atau yang pura-pura pintar sejarah!), sering bertanya begini: “Sejak kapan Yesus jadi Tuhan?What a stupid question!

Gambaran Historis Kekristenan Abad IV
Pada tanggal 24 Pebruari 303 M, penganiayaan besar terhadap orang-orang Kristen mulai dilakukan pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus (244 – 311 M). Penganiayaan ini berakhir pada bulan April 311 M ketika Kaisar Galerius (266 – 311 M) mengumumkan Edik Toleransi di Kekaisaran Romawi.
 
Dua tahun kemudian, ketika muncul Edik Milano, Kaisar Konstantianus (272 – 337 M) memberikan hak legal kepada Kekristenan dan mengijinkannya sebagai salah satu agama resmi di Kekaisaran Romawi.
 
Tetapi, Kaisar Kosntantinus TIDAK menjadikan Kekristenan sebagai AGAMA NEGARA di Kekaisaran Romawi pada waktu itu. Ia sekadar mengijinkannya sebagai salah satu agama resmi. Meski Konstantinus menyerukan toleransi terhadap Kekristenan, namun faktanya penganiayaan terhadap orang-orang Kristen tetap berlangsung. Banyak orang Kristen rela mati martir karena mempertahankan iman mereka kepada Kristus.
 
Pada tanggal 27 Pebruari 380 M ketika Kasiar Theodosius I (347 – 395 M) naik takhta, Kekristenan diumumkan sebagai agama negara.
 
Arius dan Konsili Nicea (325 M)
Dalam konteks di atas, Arius, seorang bishop dari Aleksandria (Mesir), mulai mengkhotbahkan gagasan bahwa Yesus tidak memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Yesus bukan Allah; Yesus hanyalah makhluk ciptaan.
 
Seorang Bishop yang lain dari Aleksandria bernama Aleksander menentang pandangan Arius. Pada tahun 321 M, sebuah Gereja lokal di Aleksandria mengumumkan ajaran Arius sebagai ajaran sesat.
 
Meski demikian, Arius berpindah ke Palestina dan mulai mendapatkan banyak pengikut. Polemik antara Arius serta para pengikutnya dengan Kekristenan mulai memanas sehingga menarik perhatian Kaisar Konstantinus.
 
Perlu dicatat bahwa Konstantinus adalah seorang politisi, bukan teolog. Ia hanya menginginkan kedamaian dalam Kekaisaran Romawi sehingga ia mengundang tidak kurang dari 1800 bishop pada waktu itu untuk berkumpul di Nicea (235 M). Konsili ini tidak dihadiri oleh beragam aliran kepercayaan. Sebaliknya, Konstantinus hanya menghadirkan para bishop dari pihak Arius dan pihak Kekristenan. Hanya itu.
 
Pada hari terlaksananya konsili tersebut, hanya sekitar 300 orang bishop saja yang dapat menghadirinya. Arius tidak dapat mempertahankan ajarannya di dalam Konsili tersebut ketika ia diminta menjelaskan pandangannya menurut Kitab Suci. Arius dinyatakan sesat dalam Konsili tersebut karena didapati bahwa ia menafsirkan Kitab Suci secara tidak berdasar.
 
Sekali lagi perlu dicatat, para bishop yang menghadiri Konsili itu adalah orang-orang yang hidup dalam penganiayaan karena iman mereka. Mereka pasti bukan orang yang dengan mudah mengkompromikan iman mereka dalam sebuah Konsili ketika untuk tiba di sana, mereka telah melihat banyak nyawa orang Kristen berakhir sebagai martir.
 
Sampai di sini, Konsili tersebut tidak dimaksudkan untuk mengangkat Yesus menjadi Tuhan. Sebaliknya, para bishop yang menghadiri Konsili tersebut adalah orang-orang yang telah mengalami banyak penderitaan karena pengakuan iman mereka bahwa Yesus adalah Tuhan!
 
Konstantinus bahkan tidak memiliki kecenderungan terhadap salah satu dari dua pihak yang berpolemik dalam Konsili tersebut. Tujuan Konstantinus hanya satu, yaitu menstabilisasi situasi politik di dalam Kekaisaran Romawi akibat polemik antara Arius dan Kekristenan. Itulah sebabnya, Konstantinus tidak bersimpati terhadap Kekristenan karena yang ia inginkan adalah kompromi sehingga tercipta stabilitas politik. Namun karena para bishop itu tidak mau berkompromi, Arius pun dibuang ke Ilirikum dan dinyatakan sebagai bahaya stabilitas politik.
 
Konstantinus Menjadi Pengikut Arius
Pasca Konsili Nicea, tidak berapa lama kemudian, saudari perempuan Konstantinus bernama Konstantia menasihati Konstantinus agar memanggil pulang Arius. Konstantinus menyetujuinya dan berniat memanggil Arius agar mendapatkan pengakuan dari Kekristenan perihal ajarannya. Namun, Arius meninggal sebelum ia sempat kembali.
 
Seorang pengikut Arius bernama Eusebius dari Nikodemia berhasil mempengaruhi Konstantinus. Dan sebelum meninggal, Konstantinus dibaptis oleh Eusebius dari Nikodemia sebagai simbol persetujuannya terhadap pandangan Arius.
 
Setelah kematian Konstantinus, para pengikut Arius semakin mendapatkan kekuatan politik. Mereka menggunakan kekuasaan politik untuk melawan Kekristenan. Bahkan dua kaisar selanjutnya, yaitu Kaisar Konstantinus II (317 – 361 M) dan Kaisar Valens (328 – 378 M) adalah pengikut ajaran Arius.
 
Jadi, meskipun para pengikut Arius masih minoritas secara jumlah pada waktu itu, namun mereka memiliki kekuatan politik untuk menekan Kekristenan. Banyak Bishop yang dipaksa untuk menyetujui pandangan Arius. Seorang Bapa Gereja pada waktu itu, Hieronimus (atau St. Jerome) menggambarkan situasi itu demikian: “The whole world groaned and was astonished to find itself Arian” .
 
Athanasius dari Aleksandria: Membayar Harga Orthodoksi
Situasi politik yang menguntungkan para pengikut Arius, membuat salah seorang Bapa Gereja bernama Athanasius dari Aleksandria menyerukan perlawanan.
 
Athanasius terus berargumentasi berdasarkan Kitab Suci melawan kesesatan ajaran Arius. Untuk itu, Athanasius bahkan dipecat sebanyak lima kali dari posisinya karena tidak mau berkompromi dengan ajaran sesat. Bukan hanya itu, ia juga dibuang keluar dari Roma seiring dengan pemecatan-pemecatannya.
 
Athanasius tidak mundur. Ia berdiri untuk kebenaran betapa pun harga yang harus ia bayar. Athanasius adalah seorang pahlawan iman yang memaku namanya pada sebuah tonggak sejarah yang mengingatkan kita bahwa selalu ada harga yang dibayar untuk tidak mengkompromikan iman dan kebenaran!
 
Sementara para pengikut Arius menikmati kekuasaan politik yang kuat, mereka bertentangan satu sama lain dan menghancurkan diri mereka.
 
Tidak lama kemudian, Kaisar Theodosius I naik takhta dan mendeklarasikan Kekristenan sebagai agama negara. Pada tahun 381, diadakan lagi Konsili Konstantinopel yang mereafirmasi kredo Nicea. 
 
Penutup
Jadi, tidak benar bahwa ketuhanan Yesus ditetapkan dalam Konsili Nicea. Juga tidak benar bahwa Kekristenan menggunakan kekuasaan politik di pundak Kaisar Konstantinus untuk mengeliminasi sekte-sekte lain pada masa itu.
 
Ketuhanan Yesus telah diakui sebelumnya oleh para bishop yang menghadiri Konsili tersebut. Mereka bahkan rela menghadapi berbagai penganiayaan demi iman mereka kepada Kristus.
 
Sebaliknya, justru para pengikut Arius lah yang mendapatkan kekuatan politik pasca Konsili Nicea sehingga memaksa banyak Bishop yang menandatangani Pengakuan Iman Nicea untuk menyetujui kembali ajaran Arius.