Konsultan bisnis kelas dunia yang sangat disegani, Stephen R. Covey mengawali “The 8th Habith” dengan penandasan, berikut:

Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi bila Anda ingin membuat perbaikan bear yang amat berarti, lakukan sesuatu pada paradigma…persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau kacamata yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna.

Precisely! Tepat sekali!

Covey bukanlah seorang Kristen dengan teologi ortodoks. Ia adalah seorang penganut Mormonisme. Tetapi, yang dinyatakan Covey dalam nasihatnya kepada para bisnisman di atas tidak bisa tidak merupakan sebuah hikmat yang berasal dari Alkitab sendiri.

Kekristenan tidak pernah memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu bagi Kristus, tanpa terlebih dahulu memanggilnya untuk mengalami kelahiran baru dan pertobatan, bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang benar (Yer. 9:23-24; Yoh. 17:5). Pertobatan di sini berbicara mengenai “perpalingan” atau “perubahan hidup” dalam segala aspeknya atas dasar pengenalan yang benar akan Allah.

Sedemikian pentingnya paradigma yang benar, maka seorang gembala bernama Paulus memang memberikan banyak nasihat-nasihat praktis (paraenesis) di dalam surat-suratnya. Tetapi perhatikan komposisi setiap suratnya dengan baik: Paulus selalu mengawali surat-suratnya dengan berbicara mengenai doktrin-doktrin terlebih dahulu; atau doktrin-doktrin Kekristenan sebagai dasarnya. Atas dasar doktrin-doktrin tersebut, Paulus kemudian menarik implikasi-implikasi praktisnya.

Atau dari indikatif (doktrin-doktrin; atau prinsip-prinsip teologis) baru lahir nasihat-nasihat praktis (imperatif; atau paraenesis).

Prinsip penting di atas terlihat, misalnya, dalam Roma 12:1-2 yang diawali dengan “karena itu” (therefore; Yun. oun). Karena apa? Karena “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang berdosa” (Rm. 1); karena dosa merupakan sesuatu yang universal (Rm. 2-3); karena semua orang yang telah percaya kepada Kristus telah dibenarkan oleh iman – justification by faith (Rm. 3-5); karena kita telah mati dan bangkit bersama Kristus dan tidak lagi menjadi hamba dosa maupun hamba hukum Taurat (Rm.6-7); karena kita hidup oleh Roh yang memberikan pengharapan yang pasti sebagai anak-anak Allah (Rm. 8); dan karena keselamatan itu diberikan bagi orang-orang pilihan Allah yang dimulai dari pemilihan terhadap Israel (Rm. 9-11).

Jadi, Paulus menasihati orang-orang Kristen di Roma untuk mengalami pembaruan akal budi dan mempersembahkan seluruh hidup mereka, atas dasar doktrin-doktrin di atas. Hal yang sama juga dilakukan Paulus dalam surat-suratnya yang lain. Tidak pernah Paulus memberikan nasihat tanpa dilandasi oleh prinsip-prinsip teologisnya.

Yang menyedihkan adalah Kekristenan masa kini cenderung kuat berbicara mengenai hal-hal praktis, tetapi anti terhadap hal-hal yang sifatnya teologis. Anti doktrin. Anti pengajaran. Yang penting praktis.

Fenomena seperti itu merupakan hasil perkawinan (Sinkretisme) antara Postmodernisme dan sebagian ajaran Alkitab. Itulah sebabnya saya menyebutnya “Mitos Kekristenan Praktis“. Mitos karena tidak mencakup seluruh ajaran Alkitab (Tota Sriptura; the totality of Scriptura; bnd. 2Tim. 3:16) dan karena itu tidak “Sola Scriptura“.

Mari letakkan prinsip di atas dalam perspektif yang konkret, khususnya dalam elemen-elemen inti ibadah Kristen, yaitu: Pengajaran firman, doa, puji-pujian/penyembahan, perjamuan kudus, dan penginjilan (bnd. Kis. 2:42; Mat. 28:19-20).

Tanpa pengajaran firman yang tepat (doktrin atau teologi yang tepat), orang dapat berdoa (praktis bukan?) tetapi menaikan doa yang salah (bnd. Yak. 4:3).

Tanpa pengajaran firman yang tepat, perjamuan kudus itu dapat dilakukan dengan menyimpang bahkan membahayakan hidup (bnd. 1Kor. 11:11-33).

Tanpa pengajaran firman yang tepat, penyembahan atau ibadah itu dapat menjadi sesuatu yang kacau-balau (bnd. 1Kor. 12-14).

Tanpa pengajaran firman yang benar, penginjilan itu hanya menjadi semacam iklan kesehatan (mis. saya pernah mendengar orang berkata ia menginjili seseorang dengan berkata: “Mau gak berhenti merokok?” orang tersebut ikut ibadah dan berhenti merokok) atau menjadi semacam iklan terapi psikologis (Mis. saya pernah mendengar seseorang kesaksian katanya dia menginjili seseorang: “Mau gak berhenti marah?“) atau menjadi semacam iklan sosio-ekonomis (mis. kalau percaya Tuhan Yesus, bisnismu lancar, sukses, sembuh dari segala macam penyakit). Padahal inti Injil rasuli adalah Yesus mati, dikuburkan, dan naik ke sorga demi penebusan kita.

Kekacauan-kekacauan seperti di atas adalah buah dari “mitos Kekristenan praktis“. Dan lebih disayangkan lagi, mereka akan terus menasihati Anda untuk jangan mengajar hal-hal teologis, yang penting praktis plus dalih bahwa “Jemaat sukanya yang praktis-praktis aja“. Pertanyaan saya, sejak kapan pemberitaan firman dan pengajaran firman itu harus disetir oleh suka atau tidak sukanya jemaat? Ajaran dari mana itu?

Mereka juga berkilah: “Jemaat kita ini pengetahuannya sangat minim.” Oh ya, justru itu tugas kita sebagai pengajar firman untuk menolong mereka bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan Allah di dalam Alkitab. Kalau yang diajarkan yang itu-itu saja, jelas saja mereka tidak akan bertumbuh. Atau jangan-jangan yang ngajar juga tahunya cuman yang itu-itu aja maka jadikan jemaat sebagai tameng?

Ini menjadi sebuah ironi karena sementara orang-orang di luar sana sudah melihat pentingnya pembentukan paradigma sebagai sesuatu yang sangat signifikan, orang-orang Kristen malah mengejar hal-hal remeh bahkan menyesatkan yang disebut Covey sebagai perbaikan kecil-kecilan.

Mengakhiri tulisan ini, saya teringat akan sebuah tulisan lain dengan tema yang sama yang pernah saya posting pada tahun 2012: “Seruan Arthur W. Pink bagi Para Pengkhotbah Praktis.”