Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Karena ini adalah tinjauan bagian pertama, maka saya perlu memberikan beberapa komentar pengantar terlebih dahulu sebelum meninjau bab tentang “Mark 1”.

Buku ini ditulis dengan bobot yang sangat baik, meski dibahasakan secara sederhana. Keseluruhan isinya terdiri atas 10 bab utama, meski sebenarnya Thabiti menjawab pertanyaan pada judul bukunya: “What is a Healthy Church Member?” dengan menyebutkan 9 macam tanda anggota Gereja yang sehat yang akan saya tinjau satu per satu.

Thabiti adalah seorang Gembala Senior di First Baptist Church, Grand Cayman Island. Saya tertarik juga dengan jejak akademis Thabiti yang meraih gelar BA dan MS dalam bidang Psikologi North Carolina State University. Artinya, Thabiti tidak belajar teologi secara formal, namun saya membaca buku ini dan kualitas isinya tidak kurang berbobot dari orang-orang yang berlatar belakang pendidikan teologi secara formal. Bahkan jika Anda membaca sejumlah nama yang memberikan endorsement untuk buku ini, Anda akan menemukan nama sejumlah world-famous Bible Scholars di sana, semisal: R. Albert Mohler, Jr. (President The Southern Baptist Theological Seminary), R.C. Sproul (President and Chairman Ligionier Ministries), dan D.A. Carson (Research Professor of New Testament, Trinity Evangelical Divinity School). Saya akan kembali ke pengamatan ini.

Thabiti menulis buku ini untuk menolong orang-orang Kristen menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bagi diri mereka sendiri: “Apakah tanda yang kelihatan dari seorang anggota Gereja yang sehat dalam terang Kitab Suci?”. Dan “Bagaimana Anda bisa, sebagai seorang anggota dari sebuah Gereja lokal, memberikan kontribusi positif bagai kesehatan Gereja Anda?”.

Tanda paling pertama (mark 1) yang dikemukakan Thabiti untuk menjawab pertanyaan “what is a healthy church member?” adalah “a healthy church member is an expositional listener?” Bagi Thabiti, seorang anggota Gereja yang sehat adalah seorang pendengar eksposisi firman Tuhan (penjelasan firman Tuhan baik dalam bentuk khotbah, renungan, PA, dsb.).

Bagi Thabiti, dan saya kira sangat tepat, untuk memahami maksud “pendengar eksposisi firman”, seseorang harus terlebih dahulu memahami maksud “khotbah eksposisional” atau khotbah ekspositoris. Khotbah ekspositoris berarti khotbah yang dasarnya adalah tafsiran eksegetis (what it meant) dari firman Tuhan yang kemudian dirumuskan dalam bentuk poin-poin khotbah bagi jemaat. Artinya, seorang pengkhotbah harus melakukan studi yang serius terhadap teks yang akan dikhotbahkannya dan membiarkan makna dari teks tersebut menyetir agenda dari khotbahnya termasuk kehidupan jemaatnya.

Khotbah ekspositoris semacam di atas bukan hanya menentukan agenda isi khotbah melainkan juga menentukan agenda para pendengarnya (para anggota Gereja). Thabiti secara serius mengingatkan bahwa seorang “pendengar eksposisional” pertama-tama bukan tertarik pada “nasihat-nasihat praktis tentang bagaimana” (hlm. 19), bukan juga mencari-cari bagian yang kelihatannya mendongkrak gensi sosio-kultural kita. Seorang “pendengar eksposisional” adalah seseorang yang perhatian utamanya tertuju kepada makna teks yang dikhotbahkan dan dengan demikian ia dapat mendengar pesan Allah melalui teks tersebut. Maka Thabiti menyimpulkan, “Mendengar secara eksposisional berarti mendengar makna dari sebuah teks Alkitab kemudian menerima makna tersebut sebagai gagasan utama yang harus dipegang teguh dalam kehidupan pribadi dan komunitas sebagai orang-orang Kristen” (hlm. 20).

Thabiti kemudian membahas tentang manfaat-manfaat menjadi seorang “pendengar eksposisional”, yaitu: pertama, mengembangkan rasa lapar terhadap firman Allah serta semakin familiar terhadap isi firman Allah; kedua, kita tertolong untuk hanya fokus pada kehendak Allah saja dan mengikut Dia; ketiga, melindungi kita dari segala tendensi buruk yang ada pada diri kita sendiri maupun ajaran-ajaran tidak sehat yang ada di sekitar kita; keempat, memberikan dorongan kepada Gembala untuk semakin serius menekuni studi terhadap makna Alkitab; dan kelima, memberikan dampak pada kesatuan dalam jemaaat (hlm. 20-22).

Bagaimana mengembangkan kebisaan untuk menjadi seorang “pendengar eksposisional”? Pertama, renungkan kembali isi khotbah ekspositoris yang telah Anda dengar dari gembala Anda dalam saat teduh pribadi. Ada baiknya juga khotabh-khotbah yang akan dikhotbahkan telah terjadwal bersama teks dan temanya sehingga jemaat dapat mendoakan pemberitaan terhadap khotabh-khotabh tersebut. Kedua, investasikan sebagian dari penghasilan Anda untuk membeli dan memiliki buku-buku tafsiran Alkitab yang baik. Ketiga, diskusikan kembali dengan teman-teman Anda mengenai isi khotbah ekspositoris yang telah Anda dengar di Gereja. Keempat, jadikan gagasan utama dalam khotbah ekspositoris yang telah Anda dengar itu sebagai pemandu untuk kehidupan Anda sepanjang minggu. Kelima, biasakan diri Anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap teks yang Anda bacakan. Bila Anda tidak dapat menjawabnya sendiri, Anda dapat menjumpai salah seorang pengajar firman atau Gembala Anda untuk mendapatkan jawabannya. Dan keenam, latihlah diri Anda untuk merendahkan diri dengan cara menerima maksud firman Tuhan sebagai koreksi, ajaran, pengarah, dan panduan. Tundukkan segala agenda Anda dan ujilah berdasarkan firman Tuhan (hlm. 22-25).

Sampai di sini, anggota-anggota Gereja (jemaat) perlu menentukan prioritas dalam mendengarkan khotbah, yaitu fokus pada maksud teks dan bukan sekadar senang mendengar hal-hal yang praktis tanpa mempertanyakan dasar telogisnya apa. Tuhan tidak pernah menghendaki kita melakukan sesuatu tanpa memperlihatkan dasar teologisnya. Teologi berarti “ajaran tentang Allah” dan seluruh isi Alkitab adalah tentang Allah. Maka saya percaya, yang dimaksudkan Thabiti dengan menjadi “pendengar eksposisional” sebagai tanda pertama dari seorang anggota Gereja yang sehat adalah bahwa dengan demikian, kita mengenal Allah yang benar sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab dan yang dikhotbahkan secara teratur di Gereja.

Di sisi lain, saya kira banyak pengkhotbah harus membaca bagian ini dengan saksama. Sebab saya mendengar banyak pengkhotbah yang setelah membaca salah satu teks Alkitab, isi khotbahnya hanya sedikit menyinggung tentang teks tersebut (bahkan sama sekali tidak disinggung) lalu selebihnya “keliling dunia” ke berbagai teks lainnya yang belum tentu membahas topik yang sama dengan teks yang tadinya sudah dibacakan. Tidak ada penjelasan makna teks sama sekali. Isinya semata-mata pengalaman hidup seseorang atau pengalaman pribadi. Atau ada penjelasan makna teks tetapi teks itu ditafsirkan (dijelaskan) sesuka hati di luar konteks originalnya. Pengkhotbah seperti ini sudah pasti bukan mengkhotbahkan firman Tuhan, melainkan mengkhotbahkan isi pikirannya sendiri. Anda tidak akan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dengan mendengarkan khotbah-khotbah begini.

Saya juga percaya bahwa banyak pengkhotbah masa kini harus memberi perhatian serius terhadap penekanan-penekanan Thabiti mengenai studi yang serius terhadap makna sebuah teks yang akan dikhotbahkan. Yang saya dapati seperti yang tercermin dalam khotbah-khotbah seperti di atas, orang tidak menginvestasikan waktu serta uang untuk membeli buku-buku yang baik sebagai sarana penolong (tools) guna menyelidiki maksud teks. Yang mereka lakukan hanya semata-mata merenungkan (yang kata lainnya adalah “mengkhayalkan khayalan rohani untuk dikhotbahkan”).

Hal penting lainnya adalah bahwa Anda tidak dapat mendengar suara Allah tanpa membaca Alkitab dan mendengarkan pengajaran yang baik tentang Alkitab. Roh Kudus berbicara melalui Alkitab dan mengingatkan kita serta memberi kita hati yang lapar dan haus serta kehendak yang tunduk untuk menerima kebenaran Alkitab. Inilah arti dari mendengar suara Allah. Jadi kalau ada orang yang mengklaim penuh Roh Kudus tapi tidak memiliki rasa lapar untuk membaca Alkitab dan mendengarkan pengajaran Alkitab, saya tidak mengerti itu kepenuhan Roh Kudus yang mana. Roh Kudus adalah “Roh kebenaran”, Roh Kudus juga adalah Roh yang mewayhukan Alkitab, maka sudah amat sangat pasti bahwa kepenuhan Roh Kudus tidak membuat orang menjadi anti-firman, anti-pengajaran firman!

Jangan percaya kepada siapa pun yang mengajari Anda bahwa Anda dapat mendengar suara Allah tanpa perlu membaca Alkitab dan mendengarkan khotbah-khotbah yang baik. Mendengar suara Allah terpisah dari Alkitab adalah sebuah kekacauan doktrin! Kekacauan ajaran dan kekacauan praktik ibadah dalam Kekristenan masa kini adalah karena ada ajaran bahwa Anda dapat mendengar suara Tuhan secara langsung, seakan-akan Alkitab tidak cukup bagi Anda untuk mendengar pesan-Nya. Omong kosong semacam ini bangkrut karena firman Tuhan sudah lengkap ditulis; tidak ada lagi pewahyuan baru (jika masih ada pewahyuan baru semisal Tuhan berbicara langsung kepada Anda, apakah Anda pikir itu tidak bertentangan dengan finalitas Alkitab?). Saya bahkan mendengar ada ajaran palsu mengenai “pengurapan telinga” supaya peka mendengar suara Tuhan. Yang perlu dibuat peka adalah otak dan hati Anda dalam membaca firman Tuhan sehingga mengerti firman Tuhan (Alkitab) secara baik, menerima kebenarannya, merefleksikan aplikasinya dan hidup taat kepada Dia. Itulah yang disebut sebagai “pendengar eksposisional”.

Kembali kepada jejak akademis Thabiti. Thabiti tidak menempuh pendidikan teologi secara formal, tetapi seperti tercermin dalam buku ini dan juga pujian dari sejumlah pakar Alkitab ternama di atas, Thabiti pasti orang yang sangat serius menekuni studi mandiri terhadap firman Tuhan, menginvestasikan banyak waktu untuk studi dan juga uang untuk mendapatkan buku-buku yang baik sebagai alat bantu melakukan studi terhadap firman Tuhan seperti yang ia nasihatkan di atas. Teladan seperti ini, bukan hanya harus diapresiasi, melainkan juga harus diteladani. Seperti yang dinyatakan oleh Anthony J. Carter dalam endorsmentnya terhadap buku ini: “Seorang gembala yang setia sudah sepatutnya juga adalah seorang anggota gereja yang baik.”