Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Sebagai jawaban dari “What is a healthy church member?,” Thabiti menulis: “a healthy church member is a biblical theologian” (“seorang anggota Gereja yang sehat adalah seorang teolog alkitabiah/biblika”). Ini adalah tanda kedua dari seorang anggota Gereja yang sehat.

Apa yang Dimaksud dengan Menjadi Seorang Teolog Biblika?

Kenyataan yang menyedihkan dalam berbagai Gereja adalah anggota-anggotanya mayoritas hanya memiliki pemahaman yang dangkal mengenai Allah. Orang-orang Kristen telah mengabaikan panggilan utama mereka yaitu memahami dan mengenal Allah.

Itulah sebabnya Thabiti menyebutkan bahwa menjadi seorang “teolog alkitabiah,” berarti dua hal: pertama, mengenal Allah sebagaimana yang tersingkap di dalam Alkitab yang adalah penyingkapan Diri Allah sendiri; dan kedua, mengenal tema-tema penting dalam narasi besar (macro story) dari rencana penebusan (redemptive history).

Bagaimana Teologi Biblika Berkontribusi bagi Kesehatan Spiritual Seorang Anggota Gereja?

Ada lima jawaban yang diberikan oleh Thabiti untuk menjawab pertanyaan di atas yang mayoritas ia adaptasi dari tulisan Wayne Grudem: Pertama, teologi alkitabiah menolong kita bertumbuh dalam penghormatan terhadap Allah;  kedua, teologi alkitabiah menolong kita untuk mengatasi gagasan-gagasan atau pemahaman-pemahaman kita yang salah mengenai iman Kristen; ketiga, teologi alkitabiah menolong kita menentukan posisi yang paling mungkin benar dalam sebuah kontroversi berkait pengajaran atau doktrin; keempat, teologi biblika merupakan suatu keharusan untuk memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus; dan kelima, teologi alkitabiah memperdalam serta mempertajam pemahaman kita akan Alkitab.

Bagaimana menjadi seorang anggota Gereja yang sehat dengan cara menjadi seorang teolog alkitabiah?

Thabiti mengusulkan beberapa strategi penting: pertama, baca buku-buku yang baik mengenai teologi alkitabiah; kedua, lakukan studi mandiri terhadap Alkitab secara tematis; ketiga, baca dan pahamilah Perjanjian Lama dalam perspektif Perjanjian Baru; keempat, baca dan telitilah pengakuan iman Gereja Anda dalam terang Alkitab; dan kelima, kejarlah kesatuan dalam iman dan hindari perbantahan yang tidak esensial.

Refleksi

Tanda kedua yang dikemukakan Thabiti di atas akan terlihat “mengejutkan” bagi sebagian besar anggota Gereja di Indonesia. Jangankan anggota jemaat, pendetanya saja malas belajar bahkan banyak pendeta yang tidak pernah belajar teologi namun tiba-tiba sudah mendirikan Gereja lokal yang baru dan mulai berkhotbah. Ada yang bahkan baru membaca Alkitab sambil menyetir ke tempat berkhotbah dan sepanjang jalan ia hanya merenungkan isi khotbahnya. Sebuah khotbah khayalan yang nanti ia balut dengan “firman Tuhan”.

Kekristenan di Indonesia mesti banyak berbenah jika kita sungguh-sungguh ingin menyenangkan Tuhan dan memenuhi panggilan kita sebagai murid Kristus yang sejati!