Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Mengawali bab mengenai “mark 3,” Thabiti menulis: “The greatest need in the world today is the Gospel” (“Kebutuhan terbesar dalam dunia saat ini adalah Injil.”). Dan bahwa “The greatest need in the church today is the Gospel” (“Kebutuhan terbesar dalam Gereja masa kini adalah Injil.”). Sedemikian vitalnya Injil dalam keseluruhan eksistensi Gereja, maka tanda ketiga yang dikemukakan Thabiti sebagai jawaban dari: “What is a healthy church member?,” adalah “A healthy church member is Gospel saturated.” (“Seorang anggota Gereja yang sehat dipenuhi oleh Injil”).

Saya tertarik dengan pemilihan kata “saturated” di sini karena kata ini dapat berarti “menjadi basah kuyup” atau “dipenuhi sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan tambahan apa pun lagi”. Nuansa makna leksikal seperti ini menegaskan emphasis (penekanan) Thabiti mengenai pentingnya Injil dalam dua proposisi yang saya kutip dalam paragraf di atas.

Menjadi Dipenuhi dengan Injil

Bagaimana kita sebagai orang Kristen “menenggelamkan diri” ke dalam Injil? Pertama, ketahuilah Injil itu sendiri. Injil bukan iklan psikologis, bukan iklan sosio-ekonomis, bukan iklan kesehatan, bukan iklan self-help, dan sejenisnya yang sering digembar-gemborkan oleh banyak “penginjil”.

Injil adalah kabar baik yang benar – Allah yang kudus dan adil sekaligus kasih dan penuh kemurahan mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia untuk menjadi korban pendamaian satu-satunya dan yang sempurna, sehingga kita yang oleh karena natur keberdosaan kita (our sinful nature) tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dapat diselamatkan melalui iman kepada Kristus. Injil berbicara tentang Allah yang benar; rencana penebusannya di dalam sejarah keselamatan; penggenapan serta klimaksnya di dalam Yesus Kristus; panggilan pertobatan dan janji serta kepastian keselamatan di dalam Kristus yang diefektifkan di dalam kehidupan kita melalui karya Roh Kudus (melahirbarukan, memateraikan, menjadi jaminan, mendiami kita, menghibur, memimpin, menegor, dsb.).

Kedua, memiliki keinginan kuat (desire) untuk mendengarkan Injil dan “mengkhotbahkannya” bagi diri sendiri. Membiasakan diri untuk mendengarkan pengajaran dan khotbah-khotbah yang baik mengenai Injil akan menolong kita untuk semakin mengenal isi Injil dengan semakin lebih baik dan menolong kita untuk membagikannya kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.

Ketiga, klimaks dari kehidupan yang dipenuhi oleh Injil adalah terintegrasinya Injil itu ke dalam kehidupan kita menjadi gaya hidup. Kehidupan kita berpusat pada Injil yang berdampak pada segenap aspek kehidupan kita: komunikasi, studi, pergaulan, waktu senggang, persahabatan, kesenangan, dsb. (Gospel-centered).

Keempat, bagikan Injil kepada orang lain. Ada kecenderungan yang aneh di dalam diri orang-orang Kristen adalah mereka berpikir bahwa kehidupan Kristen itu sesuatu yang privat dan individual. Tidak bisa tidak, ini adalah dampak dari “jajanan” Postmodernisme (relativisme, pluaralisme, dan individualism) yang “dibeli” orang-orang Kristen dari berbagai tempat. Mereka siap berbicara tentang apa saja dengan siapa saja, kecuali satu hal, Injil! Untuk kecenderungan ini, kita harus kembali kepada Amanat Agung Yesus Kristus (Mat. 28:18-20; Kis. 1:8): Yesus menegaskan kedaulatan-Nya yang universal (segala kuasa telah diberikan kepada-Ku), cakupan yang universal (di sorga dan di bumi ada di bawah kedaulatan Kristus), perintah yang universal (jadikan segala suku bangsa murid-Ku), dan jaminan penyertaan yang tidak terbatas waktu.

Lagi pula, Yesus mati bagi kita publicly – direndahkan, dihina, dianiaya, disalibkan selayaknya seorang kriminal menjadi tontonan publik, baik kita! Masuk akalkah kita hanya hidup bagi Dia, privately?

Dan kelima, menjaga kemurnian isi Injil dari penyimpangan (ajaran sesat). Poin ini menarik karena banyak orang Kristen berpikir bahwa mereka dapat menjadi Kristen tanpa perlu bertanggung jawab menjaga “ajaran yang sehat” (sound teaching) atau “Injil apostolik” (apostolic Gospel). Biasanya mereka berkilah: “Ya sudah, berdoa saja”; atau “hindari berargumentasi entah itu melalui dialog, perdebatan, atau apa pun karena itu ada roh perdebatannya.” Orang-orang Kristen seperti ini tidak tuntas membaca PB atau mereka membacanya tapi bersikap seakan-akan mereka tidak pernah membaca tentang penegasan Paulus dalam Surat Galatia mengenai “anathema” dan bahkan Petrus pun ditegur dengan sangat keras oleh Paulus ketika perilakunya membahayakan kemurnian berita Injil. Surat-surat pastoral (1-2 Timotius dan Titus) sarat dengan nasihat-nasihat mengenai pentingnya menjaga kemurnian “ajaran sehat”. Thabiti menulis, dan saya perlu mengutipnya secara langsung:

The healthy church and church member fight for and protect the apostolic gospel delivered and preserved in the pages of Scripture. When we don’t accept that responsibility and are not vigilant in understanding and applying the gospel, we leave it to be corrupted, abused, and abandoned by unscrupulous teachers and the forces of the evil one. [“Gereja dan anggotanya yang sehat berjuang demi dan melindungi Injil apostolik yang diajarkan dan dicatat di dalam Kitab Suci. Ketika kita tidak menerima tanggung jawab ini dan tidak berhati-hati dalam memahami dan mengaplikasikan Injil, kita membuatnya dikorupsi, disalahgunakan, dan ditelantarkan oleh para pengajar yang tidak teliti dan kuasa si Jahat.” – hlm. 45-46].

Tentu saja, harus diingatkan, kita tidak melindungi Injil dengan kekerasan atau menggalang massa lalu menimbulkan keributan dan kekacauan bahkan anarkis seperti yang kita saksikan dari gaya dan perilaku para pengantu agama tertentu. Cara-cara seperti ini, plain and simple, tidak manusiawi dan tidak beradab! Kita membela Injil apostolik dengan memberikan argumen-argumen dan itu dilakukan dengan mengedepankan etika Kristen, semisal: penuh hormat, kasih, dan sebagainya, serta bersandar Kristus serta pimpinan Roh Kudus.