Akhir-akhir ini saya banyak menyimak rekaman-rekaman perdebatan mengenai penyaliban Yesus di Youtube. Saya mengamati sebuah strategi berargumen yang menarik dari kalangan apologet Muslim dalam rangka menolak historisitas (kesejarahan) penyaliban Yesus adalah dengan berkutat pada detail-detail pengisahan di sekitar narasi-narasi penyaliban Yesus dalam Kitab-kitab Injil. Mereka mengajukan detail-detail yang menurut mereka tidak harmonis satu sama lain, sebagai indikasi bahwa penyaliban Yesus tidak pernah terjadi.

Ada kekecualian, semisal Shabir Ally sama seperti Ahmed Deedat percaya bahwa Yesus disalib, namun tidak mati melalui penyaliban. Tetapi, pandangan Deedat dan Ally, bisa dikatakan bukan merupakan pandangan mayoritas Muslim. Meski demikian, Ally juga menggunakan strategi yang sama, yaitu memberi perhatian terhadap diskrepansi detail-detail pengisahan di sekitar narasi penyaliban dan kematian Yesus lalu menyimpulkan bahwa Yesus tidak mati melalui penyaliban. Termasuk juga Louay Fatoohi dalam bukunya: The Mystery of the Crucifixion.

Sebenarnya, strategi berargumentasi semacam di atas merupakan strategi red herring karena mendorong diskusi kepada topik yang lain, yaitu kehandalan pengisahan kitab-kitab Injil. Dan kehandalan yang mereka asumsikan untuk didiskusikan adalah keharmonisan seluruh detail pengisahan di sekitar peristiwa spesifik, dalam hal ini penyaliban Yesus, yang didiskusikan.

Secara logis, pasti asumsi di ataslah yang mereka maksudkan, karena tidak ada diskrepansi apalagi kontradiksi dalam hal penyaliban Yesus dalam pengisahan Kitab-kitab Injil maupun seluruh PB. Seluruh PB dengan “suara bulat” menyatakan bahwa Yesus disalibkan dan mati melalui penyaliban. Jadi, dengan mengutak-atik detail-detail pengisahan di sekitar narasi penyaliban dan kematian Yesus, mereka harus mengasumsikan bahwa keseluruhan detail tersebut mesti konsisten satu sama lain barulah peristiwa penyaliban dan kematian Yesus dapat dianggap handal secara historis.

Dalam kategori argumen sejarah, strategi berargumen yang disetir oleh asumsi di atas, sekali lagi, merupakan sesuatu yang tidak logis.

Misalnya, sejarah mengenai Kaisar Tiberius dapat ditemukan dalam tulisan empat sejarahwan kuno: Tacitus, Suetonius, Velleius Paterculus, dan Caius Dio. Keempatnya mempresentasikan detail yang berbeda bahkan berkontradiksi satu sama lain mengenai Kaisar Tiberius. Tetapi, para sejarahwan tetap mengacu kepada tulisan dari keempat sejarahwan ini untuk merekonstruksi sejarah mengenai Kaisar Tiberius (mengenai hal ini, lih. A.N Sherwin-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament [New York: Oxford, 1963], 187-188).

Juga misalnya, seperti yang dikemukakan oleh Paul L. Meier mengenai kebangkitan Yesus namun argumennya dapat digunakan dalam konteks penyaliban serta kematian Yesus, sebagai berikut:

“…some critical scholars are…mistaken in seeking to use these inconsistencies as some kind of proof that the resurrection did not take place, for this is an illogical use of evidence. The earliest sources telling the great fire of Rome, for example, offer far more serious conflicts on who or what started the blaze and how far it spread, some claiming that the whole city was scorched, while others insist that only three sectors were reduced to ash. Yet the fire itself is historical: it actually happened. […sejumlah sarjana kritis melakukan kesalahan dalam upaya menggunakan inkonsistensi-inkonsistensi ini sebagai jenis bukti bahwa kebangkitan Yesus tidak pernah terjadi, karena ini adalah sebuah cara penggunaan bukti yang tidak logis. Sumber-sumber terawal mengenai kebakaran besar di Roma, misalnya, menghadirkan konflik pengisahan yang jauh lebih serius mengenai siapa atau apa yang menyebabkan nyala api tersebut dan seberapa luas kebakaran itu tersebar, beberapa mengklaim bahwa keseluruhan kota terbakar habis, sementara yang lain bersikeras bahwa hanya tiga sector yang terbakar menjadi debu. Tetapi kebakaran itu sendiri merupakan sesuatu yang historis: itu benar-benar terjadi.”]  (Paul L. Maier, In the Fullness of Time: A Historian Looks at Christmas, Easter, and the Early Church [Grand Rapids, Michigan: Kregel,1997], 180).

Atau sebuah contoh yang agak belakangan, yaitu tentang peristiwa tenggelamnya kapal Titanic pada tanggal 14 April 1912. Menurut saksi mata tertentu, kapal itu patah menjadi dua bagian sebelum karam ke dasar laut, sementara menurut saksi mata lainnya, kapal tersebut tidak patah menjadi dua bagian tetapi langsung tenggelam ke dasar laut. Meskipun ada kontradiksi testimoni seperti ini, tak ada seorang pun yang pernah percaya bahwa Titanic tidak pernah tenggelam.

Jadi, inkonsistensi-inkonsistensi di sekitar detail-detail pengisahan mengenai sebuah peristiwa sejarah tertentu, tidak berarti bahwa peristiwa sejarah tersebut tidak terjadi. Jelas, bahwa strategi berargumen yang dilatari oleh asumsi di atas, seharusnya tidak lagi digunakan. Apa boleh buat, kalau tidak menggunakan argumen fallacious, apa lagi yang tersisa dari teologi Islam? Seperti yang dinyatakan Timothy George:

There can be no Christianity without the event of the cross. There can be no Islam with it [Kekristenan tidak dapat ada tanpa peristiwa salib; Islam tidak dapat ada dengan peristiwa itu.” (Is the Father of Jesus the God of Muhammad? [Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2002], 99).