Beberapa tahun lalu, Profesor Craig A. Evans bersama timnya melakukan penggalian arkhaelogis di Mesir. Mereka menemukan banyak sekali papirus (material berupa kertas yang dibuat dari papirus) kuno di tempat-tempat pemakaman kuno di sana. Rupanya, salah satu dari papirus tersebut merupakan fragmen (penggalan) isi Injil Markus.

Evans bersama timnya, pada waktu itu sepakat untuk belum mengatakan apa-apa mengenai penemuan tersebut hingga ada petunjuk jelas setelah riset serius dilakukan untuk memberikan penanggalan terhadap fragmen tersebut.

Pada tanggal 18 Januari 2015, “The Live Science,” mempublikasikan artikel berisi wawancara dengan Evans. Dalam wawancara tersebut, Evans menyatakan bahwa fragmen Injil Markus itu telah sedang melewati uji palaeografi, karbon-14, dan komparasi dengan tulisan-tulisan kuno pada papirus lainnya yang ditemukan bersama dengan fragmen tersebut. Dan dengan sangat eksplisit serta optimistik, Evans menyatakan bahwa sangat mungkin, fragmen Injil Markus tersebut bisa diberi penanggalan sekitar tahun 80 Masehi (di bawah tahun 90 M).

Itu berarti, fragmen tersebut merupakan manuskrip (salinan) tertua PB yang telah ditemukan hingga kini. Sebagai informasi, hingga tahun 2016, kita telah memiliki 5.824 manuskrip PB berbahasa Yunani. Dari jumlah ini, manuskrip tertua yang kita miliki saat ini berasal dari Abad Kedua Masehi. Artinya, fragmen Injil Markus yang baru saja ditemukan tersebut, belum dimasukkan ke dalam jumlah ini.

Selanjutnya, Evans menyatakan bahwa fragmen Injil Markus tersebut akan dipublikasikan oleh E.J. Brill pada akhir tahun 2015, namun hingga kini belum ada kabar soal publikasinya.

Implikasi penting dari penemuan di atas adalah bahwa klaim Bart D. Ehrman (ahli kritik teks PB yang sekarang menjadi agnostik dan sangat rajin dikutip oleh Muslims untuk menyerang PB), telah menjadi usang. Ehrman menyatakan bahwa kita tidak memiliki naskah asli (autograph); yang kita miliki hanyalah salinan dari salinan dari salinan dari salinan. Ehrman memberi kesan bahwa teks PB tidak dapat dipercaya kehandalannya.

Klaim Ehrman di atas sudah saatnya dibuang ke dalam tempat sampah, karena penemuan akan fragmen tertua Injil Markus membuktikan bahwa jika Injil Markus (menurut mayoritas pakar dengan teori “Markan Priority“) ditulis pada tahun 60 M, maka jarak waktu antara naskah asli dan fragmen tersebut hanya berkisar 20 tahun. Dalam jarak waktu yang sangat singkat ini, untuk dunia literatur kuno, merupakan omong kosong belaka untuk membunyikan klaim “salinan dari salina dari salinan dari salinan…”

Dan yang terpenting adalah komentar Evans bahwa setiap kali ada penemuan manuskrip PB, selalu terbukti bahwa penemuan-penemuan itu mengkonfirmasi stabilitas isi teks PB. Termasuk fragmen Injil Markus tersebut, mengkonfirmasi dengan sangat kuat akan stabilitas isi Injil Markus. Maka, adalah tidak berlebihan untuk mengklaim bahwa naskah kuno yang sangat stabil isi teksnya adalah naskah-naskah PB.

Implikasi penting lainnya dari penemuan ini, setidaknya yang saya pikirkan saat ini, adalah bahwa klaim para sarjana Muslim bahwa Alkitab telah dipalsukan (corrupted), merupakan klaim omong kosong belaka nan absurd. Bahkan ketika tidak ada penemuan ini pun, klaim tersebut tidak memiliki acuan bukti apa pun.

Memang, untuk memuaskan “wishful thinking,” Anda hanya perlu membuat klaim heboh tanpa bukti sama sekali. Sebab pada akhirnya, ketika kebenaran berbicara, semua klaim heboh nan absurd itu hanya perlu sirna ibarat embun yang raib terkena cahaya mentari pagi. Dan mereka raib bersama lantunan indah nan merdu dari Engelbert Humperdinck, “There goes my everything“.

Advertisements