Muslims terbiasa menghafal tanpa mencerna. Maka ketika diperhadapkan dengan tantangan serius, otak mereka yang tidak terbiasa digunakan dengan baik itu lalu memunculkan berbagai excuses absurd.

Misalnya tentang siapa ayah kandung Muhammad yang sebenarnya. Muslims di seluruh dunia percaya (asumsi) tanpa pertanyaan bahwa ayah Muhammad adalah Abdullah putra Abul-Muttalib. Karena hanya sekadar menghafal, mereka tidak sadar akan masalah serius dari asumsi tersebut.

Secara historis, Muhammad tidak mungkin putra Abul-Muttalib karena Muhammad baru lahir empat tahun kemudian setelah kematian Abul-Muttalib. Hal ini didukung oleh sumber-sumber Islamik seperti yang dapat Anda simak dalam video di bagian bawah tulisan ini.

Setelah diperhadapkan dengan masalah serius di atas, “sains” Islamik pun bersegera menelorkan excuses. Mereka mengusulkan masa kehamilan panjang dengan berbagai contoh absurd yang semua orang tahu bahwa contoh-contoh itu hanya ada di dalam khayalan (fiksi) para sarjana Muslims yang tidak memiliki pilihan lain selain menciptakan fiksi.

Jadi, wahai Muslims, siapakah ayah Muhammad yang sebenarnya? 

Advertisements