Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Thabiti memberi judul untuk bab mengenai tanda keempat dari seorang anggota Gereja yang sehat: A Healthy Chruch Member is Geniuinely Converted (Seorang Anggota Gereja yang Sehat adalah Petobat Sejati). Saya kira, ini adalah bab yang sangat penting karena istilah pertobatan sering digunakan oleh semua orang Kristen namun tidak banyak yang paham makna sesungguhnya dari pertobatan itu sendiri.

Penting untuk dicatat bahwa pertobatan atau perpalingan bukan sekadar berdiri dan mengucapkan doa mengaku dosa dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ada banyak kasus di mana orang-orang seperti ini pada akhirnya meninggalkan iman mereka kepada Kristus.

Pertobatan ialah sebuah perpalingan radikal. Dalam kata-kata Thabiti sendiri:

This radical change is what Christian theology calls ‘conversion.’ Conversion is the radical turn from an enslaved life of pursuing sin to a free life of pursuing and worshiping God. Conversion is a change of life, not merely a decision. This change is not a matter of moral rectitude, self help, or mere behavior modification. It is not accomplished by outward  displays or religious practices like “walking the aisle.” It cannot be accomplished by human effort but only by the power of God. [Perubahan radikal ini adalah apa yang teologi Kristen sebut sebagai ‘pertobatan.’ Pertobatan adalah perpalingan radikal dari sebuah kehidupan dalam perbudakan mengejar dosa kepada sebuah kehidupan yang bebas untuk mengejar dan menyembah Allah. Pertobatan adalah sebuah perubahan hidup, bukan sekadar sebuah keputusan. Perubahan ini bukan soal perilaku moral yang baik, pertolongan diri, atau sekadar modifikasi perilaku. Itu (pertobatan) tidak dicapai melalui tampilan-tampilan luar atau praktik-praktik keagamaan seperti ‘menyusuri lorong.’ Itu tidak dapat dicapai melalui upaya manusia tetapi melalui kuasa Allah.] – p. 50.

Selanjutnya, Thabiti menyebutkan sejumlah indikasi atau tanda bahwa seseorang telah merupakan seorang petobat sejati, yaitu:

  1. Menyadari sungguh-sungguh dan berduka akan kondisi keberdosaannya yang membuatnya tidak layak dikasihi oleh Allah melainkan dihukum oleh Allah. Tak ada yang dapat ia banggakan sebagai jasa yang layak diupahi anugerah Allah.
  2. Roh Kudus mengerjakan keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa satu-satunya jalan keluar dari kondisi terhukum itu adalah melalui anugerah Allah yang dinyatakan di dalam kesempurnaan karya penebusan Kristus. 
  3. Terus menerus berjuang melawan natur keberdosaan dan tendensi untuk berdosa dengan bersandar sepenuhnya kepada kuasa Allah.
  4. Mengasihi Bapa dan mengasihi sesama orang Kristen.
  5. Roh Kudus bersaksi di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.
  6. Bertekun di dalam iman hingga akhir hayat kita.

Pertobatan sejati dimulai dari karya Allah, ditopang oleh kuasa Allah, dan disertai hingga akhir oleh Allah sendiri. Itulah sebabnya, seorang berdosa seperti Paulus pun, bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan karena keyakinan yang kokoh akan Injil Yesus Kristus sebagai kekuatan Allah (Rm. 1:16-17) dapat berseru menantang maut:

“Hai maut, dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. ” (1Kor. 15:55-57).

 

Advertisements