Charles Haddon Spurgeon, Khotbah, dan Riset

Saya baru saja memCharles Spurgeonbaca sebuah buku, Charles Spurgeon: The Prince of Preachers mengenai Charles Haddon Spurgeon (19 Juni 1834 – 31 Januari 1892) yang dikenang sebagai salah seorang pengkhotbah terbesar dalam sejarah Kekristenan. Selama 40 tahun, ia telah mengkhotbahkan lebih dari 3500 khotbah kepada lebih dari 10 juta orang (buku berisi koleksi khotbah-khotbahnya mencapai 65 volume). Tidak seorang pun pada masanya yang memiliki kemampuan berkhotbah dengan daya tarik yang sangat kuat hingga ribuan orang datang mendengarkannya berkhotbah setiap minggu.

Banyak yang dapat dikatakan mengenai pengkhotbah brilian multi-talenta tersebut. Namun salah satu hal penting yang menarik perhatian saya saat membaca The Prince of Preachers, adalah sebuah kutipan dari Spurgeon:

Unstudied thoughts coming from the mind without previous research, without the subjects in the hand having been investigated at all, must be a very inferior quality, even from the most superior men, and as none of us would have the effrontery to glorify ourselves as men of genius or wonders of erudition, I fear that our unpremeditated thoughts upon most subjects would not be remarkably worthy of attention.  Terjemahan: “Pemikiran-pemikiran yang tidak terpelajar berasal dari pikiran tanpa riset sebelumnya, topik-topik tanpa penyelidikan sama sekali, pastilah merupakan sebuah kualitas yang rendahan, bahkan [ketika itu] berasal dari orang-orang yang paling hebat, dan sama seperti tak ada di antara kita yang boleh lancang untuk memuliakan diri kita sendiri sebagai orang-orang yang jenius atau yang hebat dalam hal pengetahuan, Saya khawatir bahwa pemikiran-pemikiran kita yang tanpa perenungan akan banyak topik tidak layak untuk mendapatkan perhatian berarti.” (Dan Harmon, Charles Spurgeon: The Prince of Preachers [Epub Version; Ohio: Barbour, 1997], loc., 61/33).

Penting untuk dicatat bahwa Spurgeon tidak pernah menempuh pendidikan formal untuk menjadi seorang pengkhotbah. Tetapi jangan salah paham. Spurgeon semasa hidupnya, mengoleksi lebih dari 12 ribu buku di perpustakaan pribadinya. Ia bahkan mendirikan The Pastor’s College yang masih berjalan hingga saat ini, tempat di mana ia mendidik dan melatih para calon pelayan Tuhan. Selain berkhotbah secara rutin, ia juga tanpa lelah, terus mempublikasikan tulisan-tulisan yang hasilnya digunakan untuk mendanai The Pastor’s College.

Saya tidak mengindikasikan dalam catatan singkat ini bahwa riset dan studi yang mendalam akan Firman Allah semata-mata merupakan faktor penentu kualitas pelayanan Spurgeon. Suatu ketika, Ada seseorang yang bertanya mengenai rahasia kesuksesannya sebagai pengkhotbah, Spurgeon menjawab: “Jemaat berdoa bagi saya.” Memang, kehidupan doa Spurgeon sangat vital dalam pelayanannya. Kebergantungan mutlaknya akan pimpinan Roh Kudus adalah poros dari pelayanannya.

Poin saya adalah, sang pengkhotbah jenius dan menawan seperti Spurgeon, ketika semakin banyak berdoa dan semakin bergantung kuat kepada Roh Kudus, semakin percaya bahwa keharusan untuk menyajikan khotbah yang well-researced, khotbah dengan perenungan yang mendalam dan yang lahir dari hasil riset yang sungguh sangat serius, merupakan bagian dari kehendak Tuhan (bnd. Luk. 1:1-4). Roh Kudus tidak memusuhi riset, dan doa bukanlah pengganti studi yang mendalam dan saksama serta serius.

Saya khawatir, bersama Spurgeon, bahwa banyak pendeta masa kini yang berkhotbah tanpa melakukan riset yang serius dan teliti, lalu bertameng spiritualitas doa, sambil mengklaim pimpinan Roh Kudus dan bahkan lancang mengklaim: “Biarkan Tuhan saja yang bicara,” adalah para pemalas intelektual yang khotbah-khotbah mereka tidak layak didengarkan oleh siapa pun, kecuali oleh orang-orang yang telah terbiasa menikmati junk food.

Sekarang saya percaya, menjauhkan telinga saya dari mendengarkan khotbah para pemalas intelektual di atas, adalah sebuah kebajikan bagi pikiran saya yang kata Tuhan Yesus harus saya gunakan sepenuhnya untuk mengasihi Dia (Mat. 22:37).

Bagaimana dengan Anda?

Advertisements