A Review of Robert R. Reilly: The Closing of the Muslim Mind: How Intellectual Suicide Created the Modern Islamist Crisis

41e12xyzpml-_sx317_bo1204203200_Seorang sarjana Inggris bernama William Montgomery Watt menyatakan: “Disiplin sentral dalam Islam bukanlah pendidikan, melainkan yurisprudensi (hukum)”.

Kata-kata Montgomery di atas sangat tepat menggambarkan “core value” (nilai inti) dari Islam yang penekanannya bukan pada aspek intelektual, melainkan “power and will” (kekuasaan dan kehendak). Islam berarti “tunduk” (submission) secara mutlak kepada kehendak Allah. Dalam intonasi keyakinan dasar seperti ini, Anda tidak memerlukan intelektualitas sebagai intonasi mayornya. Semua yang Anda perlukan adalah sikap tunduk kepada apa pun yang dikatakan Allah dan Muhammad, maka Anda sudah boleh mengkalim sebuah kesalehan. Tanpa pertanyaan, tanpa perlawanan, tanpa refleksi kritis, kecuali satu hal: tunduk atau taat mutlak!

Dalam kepungan hawa intelektualitas yang terpinggir di atas, epistemologi Islam tradisional bergerak dalam dua penyangkalan spesifik: a) menyangkali kapasitas akal budi untuk mengetahui apa pun; dan b) percaya bahwa realitas bersifat ‘unknowable‘ (tidak dapat diketahui). Only God is all-knowing, demikian semboyan mereka. Yang mereka lakukan hanya tunduk saja dan tidak ada ruang refleksi kritis di dalamnya.

Reilly menyatakan bahwa ketika Anda hidup dalam ladang epistemologis di atas, Anda tidak akan menghasilkan buah yang lain selain “bunuh diri intelektual” (intellectual suicide). Dan kultur bunuh diri intelektual seperti inilah yang merembesi mayoritas Muslim masa kini.

Reilly melihat adanya sepijar harapan dengan munculnya aliran Mutazilite (dari kata “i’tazala” berarti “memisahkan diri” atau “berbeda pendapat) muncul pada abad kesemblian M di Basra, Irak. Aliran ini dikenal dengan nama Mutazilite, karena mereka meminjam terlalu banyak hawa intelektualitas Hellenisme dan menjadikan mereka terkenal dengan perburuan akan rasionalitas.

Tetapi, pijaran harapan di atas menjadi redup bahkan mati ketika aliran Asharites bukan hanya mendebat mereka dengan semboyan: “philosophy is lie” (filsafat adalah sebuah kebohongan), melainkan juga menganiaya mereka.

Dan ketika sebuah ideologi mengumumkan kematian filsafat, Anda akan mengharapkan munculnya gagasan-gagasan absurd yang mengikutinya. Misalnya, Reilly menyebutkan mengenai sebuah fatwa bahwa jika seorang perempuan keluar dari kamar mandi dalam keadaan bugil dan ada seekor anjing di situ, maka hal itu akan menjadi terlarang jika anjingnya jantan, tapi jika anjingnya betina maka tidak merupakan sesuatu yang terlarang.

Membaca fatwa di atas, Anda bahkan akan kehilangan kemampuan ekspresif Anda sama sekali melihat betapa absurd dan konyolnya fatwa tersebut. Tetapi, itulah yang akan dihasilkan oleh sebuah ideologi yang mengumumkan kematian filsafat dan hal-hal berkait intelektualitas.

Maka hingga kini, mimpi akan sebuah sistem Teokrasi Totalitarian abad ke-7 yang disebut Hukum Syariah yang digagas oleh Muhammad begitu membahana di hati mayoritas Muslim masa kini. Mereka hidup di Abad 21 dengan kapasitas nalar abad ke-7 yang dominasinya tak lain dari “pedang dan penaklukan“. Setiap kritikan terhadap Islam dianggap sebagai alasan bagi mereka untuk menggalang massa dan menginisiasi peperangan. Mereka tidak memerlukan argumentasi intelektual. Semua yang mereka perlukan hanyalah teriakan Syahadah dan tunduk total kepada pilar-pilar Islam, sambil hidup dalam fantasi “playing victim“. Setiap kali terdengar protes terhadap mereka, hal itu akan mereka anggap sebagai serangan terhadap “aqidah“, dan dengan demikian mereka adalah “korban”, maka mereka memiliki hak untuk memberikan perlawanan. Tetapi, mereka hanya punya dan mengenal satu cara perlawanan: perlawanan fisilk.

Ideologi ini hanya menciptakan manusia-manusia yang tidak peduli hidup di jaman apa pun, mereka hanya mengenal satu cara membela keyakinan yaitu pembelaan fisik, yang di dalamnya termasuk: caci maki, dan terburuknya: bakar, bunuh, dan bom bunuh diri! Mereka bahkan akan memanfaatkan segala macam sarana untuk membatasi informasi-informasi kritis yang berseberangan dengan ideologi mereka. Misalnya meminjam tangan pemerintah untuk memblokir semua publikasi baik dalam bentuk buku maupun publikasi online yang berseberangan dengan Islam. Cara-cara licik seperti ini pasti bukan ekspresi intelektualitas, melainkan sebuah inferioritas nalar teologis yang tidak mengenal cara lain untuk mempertahankan kelangsungan ideologinya selain melakukan pemblokiran. Cencorship dalam implementasi terburuknya adalah sahabat sejati yang melindungi Islam.

Mervyn F. Bendle, seorang “reviewer” buku Reilly asal Australia, dalam “National Observer, No. 83” (June 2010), menyatakan: “Islamists are blind to this presumption, for theological reasons” (Orang-orang Islam dibutakan oleh pre-asumsi ini atas alasan teologis). Dan pre-asumsi yang dimaksudkan Bendle adalah bahwa mereka bermimpi dapat membangkitkan kembali ideologi Teokrasi Totalitarian yang sudah saya sebutkan di atas; sebuah ideologi berkandung hukum bahlul yang tidak punya nilai relevansi di jaman ini.

Tentu, dalam skema mayor di atas, ada kekecualian-kekecualian di mana baik secara kelompok maupun individual, orang-orang Muslim mengejar aspek intelektualitas dan logika. Tetapi, mereka tidak dapat membangun perburuan ini di atas justifikasi teologis yang mumpuni, ketika aspek intelektualitas dan rasionalitas bukan merupakan “core value” dari Islam itu sendiri.

Gambaran di atas sangat menarik karena ketika kita melihat kepada Kekristenan, “core value” iman Kristen adalah: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi“. Sebuah nilai inti yang melibatkan secara maksimal seluruh aspek kemanusiaan: Hati, perasaan, dan rasionalitas. Sesuatu yang sangat “asing” dalam domain teologi Islam.

Sampai di sini, buku yang ditulis Robert R. Reilly: “The Closing of the Muslim Mind: How Intellectual Suicide Created the Modern Islamist Crisis” (Delaware, Willmington: ISI Books, 2010), sangat provokatif tapi, dalam hemat saya, sangat tepat menggambarkan status kultur intelektual Islam masa kini, yang tidak bisa tidak harus ditelusuri ke belakang sebagai sesuatu yang sudah digagas sendiri oleh pendirinya: Muhammad.

Apakah ada harapan munculnya reformasi intelektual di dalam teologi Islam? Saya bukan hanya meragukannya; saya mempercayainya seperti ungkapan “pelanduk merindukan bulan.” You simply cannot reform a non-exist element in an ideology.

Advertisements