Mengapa Muslims Harus Membayar Zakat?

Muslims seringkali memunculkan isu Kristenisasi di Indonesia. Isu yang sebenarnya hanya isapan jempol saja, seperti biasa. Menebar kebohongan, adalah salah satu keahlian teologis Muslims (taqiya). Muslims terbiasa mengklaim tanpa bukti – yang penting klaim dan klaim lalu nanti mereka menuntut orang lain yang harus membuktikan (shifting the burden of proof).

Mari kita asumsikan saja bahwa “Kristenisasi” adalah sebuah terminologi yang memuat etika yang buruk. Jika ada “Kristenisasi,” itu harus dianggap sebagai penyimpangan terhadap ajaran Kristen. Orang tidak boleh dibawa kepada Kekristenan dengan kecurangan, misalnya dengan menggunakan uang untuk membayar mereka agar menjadi Kristen. Satu-satunya daya tarik yang menjadi inti berita Kristen adalah Injil kasih karunia, penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus sebagai inti beritanya.

Muslims memprotes hal di atas karena mereka mengasumsikan bahwa Kristenisasi (membayar orang untuk menjadi Kristen) sebagai sesuatu hal yang buruk secara etis. Dan saya setuju bahwa ini adalah hal yang buruk secara etis. Tidak ada pembenaran apa pun untuk praktik curang dan rendahan semacam ini, karena sangat manipulatif.

Jika dari pihak Kristen yang melakukannya, kita menyebutnya “Kristenisasi”. Jika yang melakukannya dari pihak Islam, kita menyebutnya “Islamisasi”. Dan kedua istilah ini sama-sama buruk seperti yang sudah saya gambarkan di atas.

Tetapi mari kita bertanya, untuk tujuan apa Muslims membayar zakat? Anda bisa meng-google pengertian zakat, karena saya sudah tidak sabar untuk memperlihatkan kepada Anda beberapa bukti menarik di bawah ini mengenai zakat.

Dalam QS. 9:60, dijelaskan mengenai tujuan Muslims diharuskan membayar zakat. Dan salah satunya adalah “membujuk hati para mualaf”. Apa maksudnya membujuk hati para mualaf di sini? Menarik minat mereka kepada Islam dengan cara memberikan mereka sejumlah uang atau harta benda, bahkan itu dilakukan terus menerus sampai mereka menjadi tertarik untuk masuk Islam.

Jika Anda masih kurang yakin dengan penjelasan di atas, mari kita lihat bagaimana Muhammad menerapkan cara tersebut seperti yang dikisahkan dalam Sahih Muslim, salah satu koleksi hadis terpercaya dalam Islam Sunni, nomor 2313. Dalam hadis tersebut, Muhammad menarik hati Safwan bin Umayya untuk masuk Islam dengan cara memberinya ratusan domba secara terus menerus. Ini menarik karena awalnya, Safwan bin Umayya sangat membenci Muhammad, namun karena terus diberi domba dalam jumlah yang sangat banyak, maka pada akhirnya Muhammad menjadi orang yang sangat disukai Safwan. (sumber).

Menariknya, hadis mengenai Safwan bin Umayya di atas dalam koleksi Sahih Muslim, ditempatkan dalam bab tentang zakat. Dan Muhammad bukan hanya memberikan pemberian-pemberian yang banyak dan terus-menerus kepada Safwan bin Umayya, ia juga memberikan yang sama kepada Abu Sufyan bin Harb, ‘Uyaina bin Hisn dan Aqra’ b. Habis (judul babnya: Giving to those whose hearts have been inclined (towards Islam) and urging those whose faith is strong to show patience). (sumber).

Dalam Sahih Al-Bukhari,  juga merupakan salah satu koleksi hadis terpercaya dalam Islam Sunni, dalam hadis no. 3344 dikisahkan bahwa Muhammad membagi emas kepada empat orang kepala suku Najd. Ketika suku-suku lain mengajukan protes kepada Muhammad, Muhammad menjawab bahwa ia melakukan demikian untuk “menarik hati mereka kepada Islam” (sumber).

Anda mungkin mendengar beberapa waktu lalu, yayasan yang dipimpin Zakir Naik membayar 50.000 Rupee kepada setiap orang yang bersedia masuk Islam lalu meradikalisasi mereka untuk bergabung bersama ISIS. Dikatakan bahwa ia berhasil membawa 800 orang Kristen untuk masuk Islam dengan cara membayar mereka. Naik sedang dalam proses investigasi polisi India karena praktik ini. (sumber).

Melihat bukti-bukti di atas, Naik persis meneladani junjungannya, Muhammad yang menggunakan harta benda untuk memanipulasi keinginan orang untuk masuk Islam. Bukti-bukti tersebut bukan rekayasa saya. Itu semua ada di dalam Qur’an dan koleksi-koleksi hadis terpercaya dalam Islam Sunni (Sahih Muslim dan Sahih Al-Bukhari) termasuk seperti yang diteladani oleh Zakir Naik.

Jadi, sebenarnya Muhammad sendiri sudah menyediakan teladan yang brilian bagi para Muslims untuk melakukan “Islamisasi,” yaitu dengan cara menggunakan uang untuk menarik minat orang-orang non-Muslim untuk masuk Islam.

Kita kembali kepada kriteria di atas. Muslims memprotes Kristenisasi karena mereka mengasumsikan itu buruk untuk di lakukan. Kita setuju itu buruk untuk dilakukan karena memang secara etis, praktik semacam itu manipulatif dan curang. Kekristenan tidak memiliki ajaran rendahan dan curang semacam itu. Lalu, pembenaran logis dan etis yang mana yang bisa digunakan untuk menjustifikasi tujuan Muslims membayar zakat di atas? Allahnya Muhammad dan Muhammad sendiri mengajarkan bahkan mempraktikkan kecurangan rendahan itu dan itu tercatat di dalam sumber-sumber otentik Islam.

Jadi kalau Muhammad melakukan itu, tidak apa-apa sementara kalau sejumlah orang Kristenan dodol yang melencengkan ajaran Alkitab melakukan hal itu, maka layak diprotes? Well, saya tidak membela Kristenisasi, malah menganggapnya rendahan. Sama rendahnya dengan Islamisasi sebagaimana yang diperintahkan Allahnya Muhammad dan diteladankan dengan sangat setia oleh Muhammad dan para Muslims sampai sekarang.

Oh..rupanya ada yang sibuk menghitung kerikil sambil menelan onta lalu berteriak nyaring menuding rembulan.

Advertisements