Kekerasan Allah dalam PL

Stanley N. Gundry (ed.), Show Them No Mercy: Four Views on God and Canaanite Genocide. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003.

Setelah meledaknya gedung WTC dan Pentagon (2001), para pakar Kristen semakin tertantang untuk menggumuli salah satu tema tersulit dalam Alkitab, yaitu catatan-catatan mengenai peperangan-peperangan yang ada di dalam Perjanjian Lama (PL). Misalnya, Ulangan 20; Yosua 6:17-21; dll.

Bagaimana mungkin, Allah dalam PB yang mengajarkan kita untuk berdoa bagi musuh-musuh kita, memerintahkan peperangan-peperangan semacam itu? Bagaimana kita sebagai orang Kristen membaca teks-teks itu dan membangun perspektif yang tepat terhadapnya?

Buku yang saya sebutkan di atas, memuat empat pandangan yang berbeda mengenai bagaimana perspektif Kristen terhadap catatan-catatan kekerasan di atas.

Kontributor yang pertama adalah Profesor C.S. Cowles (Professor of Theology at Nazerene Point Lona University). Beliau mempertahankan pandangan diskontinuitas radikal. Menurut Cowles, peperangan-peperangan itu terjadi karena Musa dan Yosua salah memahami perintah Allah. Dan bahwa Allah di dalam PL adalah Allah yang gusar terhadap orang-orang berdosa, sedangkan Allah PB tidak demikian.

Pandangan Cowles di atas berbahaya karena dua alasan: a) pandangan tersebut berimplikasi pada penolakan terhadap otoritas PL; dan b) pandangannya mengenai perbedaan Allah PL dan PB mencerminkan pandangan seorang bidat abad kedua bernama Marcion yang menganggap Allah PL adalah Allah yang jahat dan lebih rendah wataknya dari Allah PB.

Kontributor yang kedua, Profesor Eugene H. Merrill (Professor of Old Testament Studies at Dallas Theological Seminary). Beliau mempertahankan pandangan diskuntinuitas moderat. Pokok utama argumen Merrill adalah bahwa peperangan-peperangan itu sah dalam konteks PL, namun tidak memiliki pembenaran dalam masa Gereja PB kecuali dalam area peperangan spiritual (bedakan dari peperangan fisik).

Pandangan Merrill memiliki beberapa kekuatan: a) perang tersebut merupakan demonstrasi kedaulatan Allah; b) Allah murka terhadap keberdosaan manusia, secara khusus penduduk Kanaan yang semakin lama semakin jahat; c) perang tersebut menjadi sarana penggenapan janji kovenan Allah bagi Israel; dan d) perang tersebut mendidik umat Allah bahwa Allah adalah Allah yang murka atas dosa sekaligus kasih.

Kontributor ketiga, profesor Daniel L. Gard (President of Concordia University) mengusung pandangan kontinuitas eskatologis. Gard menggunakan telusuran tematis-diakronis, dimana ia menelusuri tema “holy war” mulai dari masa PL hingga akhir PL, Periode Intertestamental, hingga masa PB. Ia melihat bahwa dalam perspektif kosmisnya, “holy war” dalam PL mencapai klimaksnya di dalam presentasi eskatologis mengenai Yesus sebagai “raja penakluk“.

Presentasi Gard di atas sangat menolong bagi kita untuk memahami dan menempatkan “holy war” dalam PL dalam konteks kultural yang tepat, yaitu konteks Timur Dekat Kuno (Ancient Near Eastern). Gard juga menolong kita melihat perbedaan antara pembentukan identitas umat Allah dalam PL yang tidak terpisahkan dengan aspek politis dan nasionalistik, dan pembentukan identitas umat Allah dalam PB (Gereja) yang tidak mengikutsertakan lagi aspek politis semacam itu bahkan universal di dalam cakupannya.

Kontributor keempat, profesor Tremper Longman III (Professor of Old Testament Studies at Westminster Theological Seminary) mengusulkan pandangan kontinuitas spiritual. Longman berargumentasi bahwa dalam konteks Wahyu Progresif, kita mendapati bahwa “holy war” dalam PL berkesinambungan hingga masa PB namun makin ke belakang, tema ini makin dibicarakan sebagai sesuatu yang ada pada ranah spiritual, bukan fisik.

Sampai di sini, meski saya beranggapan bahwa pandangan Cowles adalah pandangan yang paling sulit dipertahankan, namun saya melihat bahwa keempat kontributor di atas sepakat bahwa narasi-narasi peperangan dalam PL tidak dapat dibaca sebagai imperatif (perintah) bagi kita saat ini. Narasi-narasi itu memuat perintah dalam konteks yang spesifik, untuk tujuan yang spesifik, dan bagi komunitas yang spesifik (Israel pada era PL).

Karena itu, membaca narasi-narasi peperangan dalam PL sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan atas nama Tuhan adalah pembacaan yang sangat tidak diijinkan. Demikian juga, membaca narasi-narasi tersebut sebagai analogi dari berbagai aksi terorisme Islamik yang merajalela di seluruh dunia, pun merupakan sebuah analogi palsu (false analogy).

Akhirnya, saya memang melihat kekuatan argumen Merrill dan Gard, namun saya percaya bahwa pandangan Longman lebih meyakinkan.

Advertisements