Pembuktian Sejarah Kebangkitan Yesus: Kriteria Otentisitas (Seri 2)

Saya sudah memberikan ulasan pengantar mengenai tiga bagian utama dalam “Pendekatan Penjelasan Terbaik” guna membuktikan kesejarahan kebangkitan Yesus. Dalam seri ini, saya akan memberikan ulasan ringkas mengenai bagian pertamanya, yaitu kriteria-kriteria otentisitas.

Saya tahu bahwa mayoritas Anda yang membaca tulisan ini, telah membeli “ketidaksabaran pragmatisme,” yaitu semangat “langsung saja ke intinya.” Anda ingin saya langsung bicara tentang fakta-fakta sejarah itu. Tetapi, saya tidak yakin Anda akan memahami secara baik mengapa kita menyebut hal-hal itu sebagai “fakta-fakta sejarah,” jika Anda tidak memiliki pengetahuan dasar (basic knowledge) mengenai kriteria-kriteria yang digunakan para pakar sejarah untuk menentukan fakta-fakta tersebut.

Karena itu, silakan tolong diri Anda sendiri dengan secara sabar membaca rangkuman ringkas mengenai kriteria-kriteria tersebut dalam seri ini.

Kriteria Otentisitas

Untuk menentukan otentisitas sebuah peristiwa sejarah, para sejarahwan menggunakan sejumlah kriteria yang akan saya ulas ulas secara ringkas di bawah ini.

Kriteria Atestasi Independen

Kriteria atestasi independen (Criteria of Independent Attestation) berarti sebuah peristiwa yang disebutkan dalam sejumlah dokumen yang independen, lebih mungkin bersifat historis ketimbang hanya disebutkan dalam satu dokumen.

Atau, atestasi independen meningkatkan probabilitas sebuah peristiwa sebagai peristiwa sejarah.

Kriteria Hal Memalukan

Kriteria hal memalukan (Criteria of Embarrassment) berarti sebuah peristiwa atau tradisi mengenai Yesus yang memalukan (embarrassing) dan janggal (awkward) bagi gerakan Kekristenan mula-mula, maka peristiwa atau tradisi tersebut sangat mungkin bersifat historis.

Asumsi dari kriteria ini adalah bahwa merupakan sesuatu yang natural untuk orang mengisahkan hal-hal yang membanggakan atau yang bersifat meninggikan Yesus mengingat Kekristenan sejak semula sangat menghormati Yesus.

Karena itu, jika ada tradisi yang bersifat memalukan atau yang bersifat janggal dari “sesuatu yang natural” di atas, maka tradisi tersebut sangat mungkin bersifat historis.

Kriteria Kesaksian Saksi Mata

Kriteria kesaksian saksi mata (Criteria of Eye-Witness Testimony) berarti bahwa kesaksian saksi mata mengenai sebuah peristiwa atau tradisi mengenai Yesus menguatkan kesejarahan dari peristiwa tersebut.

Kriteria ini bukan hanya digunakan dalam pembuktian sejarah, melainkan juga digunakan dalam pembuktian hukum (legal argumentation).

Kriteria Kesaksian Pihak Lawan

Kriteria kesaksian pihak lawan (Criteria of Enemy Testimony) berarti bahwa sebuah peristiwa yang didukung oleh kesaksian musuh (pihak yang tidak sejalan atau pihak lawan) menguatkan kesejarahan peristiwa tersebut.

Asumsi dari kriteria ini adalah bahwa orang secara natural cenderung mengisahkan hal-hal yang tidak menguntungkan posisi pihak yang dilawannya. Jika sebuah peristiwa mendapat dukungan dari kesaksian pihak lawan, maka peristiwa tersebut sangat mungkin historis.

Kriteria Kesaksian Dini

Kriteria kesaksian dini (Criteria of Early Testimony) berarti bahwa peristiwa yang disebutkan dalam dokumen yang berasal dari waktu yang lebih awal atau waktu yang lebih dekat dengan terjadinya peristiwa tersebut, sangat mungkin bersifat historis.

Asumsinya adalah rentang waktu yang panjang cenderung membuat sebuah peristiwa dikisahkan dengan pembumbuan-pembumbuan (embellishment). Jika kita memiliki dokumen yang lebih dekat waktu penulisannya dari peristiwa yang dikisahkannya, maka dokumen tersebut lebih dapat dipercaya reliabilitas kesejarahannya.

Dua Penegasan Penting

Kelima kriteria otentisitas yang saya rangkum di atas, perlu mendapatkan dua penegasan penting yang mencegah kita dari kesalahpahaman bahkan mencegah kita dari penyalahgunaan kriteria-kriteria tersebut.

Pertama, harus diingat bahwa kriteria-kriteria ini adalah kriteria-kriteria yang positif yang berarti bahwa kriteria-kriteria ini digunakan untuk membuktikan (proving) otentisitas sebuah peristiwa sejarah, bukan untuk unproving (mendiskualifikasi) sebuah peristiwa.

Dan kedua, kriteria-kriteria ini tidak bersifat menyatu secara kolektif. Artinya, sebuah peristiwa tidak harus memenuhi semua kriteria di atas baru dapat disebut sebagai peristiwa sejarah.

Misalnya, sebuah peristiwa tidak memenuhi kriteria atestasi independen, namun karena memenuhi kriteria kesaksian saksi mata, maka peristiwa tersebut tetap dapat dianggap sangat mungkin sebagai peristiwa sejarah.

Juga misalnya sebuah peristiwa tidak memenuhi kriteria kesaksian pihak lawan, namun memenuhi kriteria atestasi independen, maka peristiwa tersebut tetap harus dianggap sangat mungkin merupakan peristiwa sejarah.

Akhirnya, juga misalnya, sebuah peristiwa tidak memenuhi kriteria hal memalukan namun berasal dari kesaksian saksi mata maka peristiwa tersebut harus dianggap sangat mungkin bersifat historis.

Sampai di sini, ketika membahas tentang fakta-fakta sejarah yang digunakan untuk membuktikan kesejarahan (historisitas) kebangkitan Yesus dalam seri selanjutnya, kita akan mengasumsikan kriteria-kriteria ini sebagai tolok ukur untuk menentukan fakta-fakta tersebut.

Sumber-sumber:

  1. Gary R. Habermas, The Risen Jesus and Future Hope (Lanham: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2003).
  2. Gary R. Habermas and Michale R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Grand Rapids, Michigan: Kregel, 2004). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berujudul: Kebangkitan Yesus dalam Gugatan: Bagaimana Menghadapinya?, terj. Anwar Tjen dan Pericles G. Katopo (Jakarta: Perkantas, 2013).
  3. Michael R. Licona, The Resurrection of Jesus: A New Historiographical Approach (Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2011).
  4. William Lane Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus (Lampeter: The Edwin Meller Press, 1989).
Advertisements