Pembuktian Sejarah Kebangkitan Yesus: Fakta #2 (Seri 4)

Dalam seri lanjutan ini, saya akan membahas fakta yang kedua sebagai acuan pembuktian kesejarahan kebangkitan Yesus.

Fakta #2: Para Murid Percaya bahwa Yesus Bangkit dan Menampakan Diri-Nya kepada Mereka

Tidak lama sesudah Yesus mati, para murid percaya bahwa Yesus bangkit dan menampakan diri-Nya kepada mereka pada sejumlah kesempatan yang berbeda. Kita mendapati dokumentasi dari fakta ini dalam sejumlah sumber dini dan independen.

Kerygma

Dalam kerygma yang dikutip oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:3-8, terdapat dokumentasi mengenai penampakan-penampakan diri Yesus baik kepada individu-individu (Petrus, Yakobus, dan Paulus sendiri; bnd. Kis. 9) maupun kelompok (Dua belas orang murid dan lebih dari 500 orang).

Sebuah detail penting yang ada dalam komentar Paulus terhadap kerygma tersebut yang memastikan historisitasnya adalah bahwa “…kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang” (ay. 6). Komentar ini akan mendatangkan “celaka” bagi gerakan Kekristestanan mula-mula jika pengalaman tersebut merupakan rekayasa. Orang hanya perlu menanyai mereka yang masih hidup dan membubarkan propaganda tersebut. Atau sebaliknya, komentar ini mengindikasikan bahwa penampakan-penampakan itu merupakan pengalaman nyata yang dapat diverifikasi kebenarannya.

Selain itu Kisah Para Rasul juga memuat rangkuman khotbah-khotbah para rasul yang di dalamnya terdapat dokumentasi mengenai kebangkitan dan penampakan-penampakan diri Yesus kepada para murid (Kis. 1-5; 10; 13; 17).

Kitab-kitab Injil

Penampakan-penampakan diri Yesus dalam Kitab-kitab Injil konsisten dengan tradisi lisan (kerygma) di atas.

Meski demikian, ada faktor suplemental yang menguatkan tradisi penampakan-penampakan Yesus dalam Kitab-kitab Injil adalah tradisi mengenai penampakan diri Yesus kepada perempuan-perempuan. Faktanya, pertama kali Yesus menampakan diri-Nya kepada perempuan-perempuan (Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-11; Yoh. 20:1-2).

Suplemen di atas dilihat oleh para pakar sebagai tradisi yang sangat kuat mengingat dalam konteks abad pertama, peristiwa penting seperti ini yang merupakan jantung dari gerakan Kekristenan mula-mula, jika itu adalah rekayasa, tidak mungkin “dipercayakan” kepada perempuan-perempuan sebagai saksi-saksi paling pertama. Pada waktu itu, kesaksian perempuan dianggap tidak reliabel, itulah sebabnya bahkan para murid sendiri pun tidak percaya ketika pertama kali para perempuan itu memberitahu mereka soal penampakan diri Yesus.

Intinya, tradisi di atas harus dianggap historis mengingat kriteria hal memalukan (criteria of embarrassment) yang sudah saya bahas sebelumnya.

Bapak-bapak Apostolik dan Bapak-bapak Gereja

Klemens dari Roma (+ 33 – 100 M) hidup sejaman dengan para rasul bahkan menurut Tertulianus (The Prescriptions Against Heresies, 32), Klemens mendengarkan ajaran dan khotbah-khotbah para rasul.

Klemens menulis surat kepada jemaat di Korintus, yang dikenal dengan Surat 1 Klemens (1 Clement). Dalam surat ini, Klemens menyatakan bahwa para rasul mendapatkan petunjuk-petunjuk yang pasti karena kebangkitan Yesus dan keyakinan mereka akan firman Allah serta mendapatkan pimpinan Roh Kudus untuk memberitakan Injil (1 Klemens 43:2).

Polikarpus dari Smirna (+ 71 – 160) adalah murid rasul Yohanes. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia menyebut Paulus sebagai rasul yang terberkati. Dalam surat ini juga Polikarpus bicara tentang kebangkitan Yesus sebanyak lima kali (Pol. Phil. 1:2; 2:1-2; 9:2; 12:2).

Sampai di sini kita mendapati bahwa para murid memberikan klaim-klaim yang sangat meyakinkan bahwa Yesus bangkit dan telah menampakan diri-Nya kepada mereka dalam sejumlah kesempatan yang berbeda.

Mereka bukan hanya mengklaimnya, mereka juga meyakininya bahkan mengalami penganiayaan dan rela mati demi klaim dan keyakinan tersebut. Sebut saja Stefanus (Kis. 2:8-60), penganiayaan di Yerusalem (Kis. 8:1b-3), Josephus yang kemudian dikutip oleh Irenaeus menulis mengenai kematian Yakobus sebagai martir, Tertulianus dan Eusebius menulis bahwa Petrus mati disalibkan dan bahwa Paulus mati dipancung.

Termasuk Bapak-bapak Apostolik yang menjadi murid para rasul, seperti Ignatius dari Antiokhia menjadi martir pada masa Kaisar Trajan dan Polikarpus menjadi martir di Smirna (sekarang: Kota Izmir, Turki).

Penilaian Sejarah

Tentang para murid percaya bahwa Yesus bangkit dan menampakan diri-Nya kepada mereka, baik untuk individu-individu maupun secara berkelompok, dinilai handal secara historis secara konsensus oleh para pakar Yesus Sejarah.

Konsensus itu tercapai karena tradisi-tradisi tersebut memenuhi kriteria kesaksian dini, kriteria saksi mata, kriteria hal memalukan, dan kriteria atestasi independen.

Ringkasan: PLTU

Untuk memudahkan Anda menghafal sumber-sumber yang diacu untuk fakta yang kedua ini, kita dapat menyebutnya dengan akronim: PLTU (Paulus, Tradisi Lisan, dan Tradisi Tulisan). Sumber-sumber ini memperlihatkan bahwa: a) para murid mengklaimnya secara eksplisit; dan b) para murid meyakininya hingga rela mengalami penganiayaan bahkan mati sebagai martir-martir.

Akhirnya, perlu ditegaskan bahwa fakta ini memang belum membuktikan bahwa Yesus bangkit. Tetapi, fakta ini membuktikan secara meyakinkan bahwa para murid percaya bahwa Yesus bangkit dan menampakan diri-Nya kepada mereka. Kepercayaan ini adalah sebuah fakta sejarah!

PLTU

 

Sumber-sumber:

  1. Gary R. Habermas, The Risen Jesus and Future Hope (Lanham: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2003).
  2. Gary R. Habermas and Michale R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Grand Rapids, Michigan: Kregel, 2004). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berujudul: Kebangkitan Yesus dalam Gugatan: Bagaimana Menghadapinya?, terj. Anwar Tjen dan Pericles G. Katopo (Jakarta: Perkantas, 2013).
  3. Michael R. Licona, The Resurrection of Jesus: A New Historiographical Approach (Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2011).
  4. William Lane Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus (Lampeter: The Edwin Meller Press, 1989).
  5. T. Wright, The Resurrection of the Son of God (Minneapolis: Fortress Press, 2003).
Advertisements