Pembuktian Sejarah Kebangkitan Yesus: Fakta #3 (Seri 5)

Fakta sejarah selanjutnya yang juga diakui secara konsensus di kalangan pakar sejarah Kekristenan mula-mula adalah terjadi perubahan radikal dan mendadak pada diri seorang musuh yang mendedikasikan dirinya sebagai penganiaya para pengikut Yesus yang mula-mula: Paulus.

Fakta #3: Perubahan Radikal yang Mendadak dari Paulus Sang Penganiaya

Kita memiliki kesaksian langsung dari Paulus sendiri mengenai sikap Paulus sebelum menjadi pengikut Kristus baik dalam Surat Galatia, Surat Korintus, Surat Filipi, dan Surat 1 Timotius: Ia adalah seorang penganiaya yang berupaya dengan giat dan militan memusnahkan para pengikut Kristus (Gal. 1:13, 23; 1Kor. 15:9; Flp. 3:4-6; 1Tim. 1:13).

Kesaksian Paulus di atas didukung juga oleh tulisan Lukas, yaitu Kisah Para Rasul yang menginformasikan bahwa perubahan mendadak dan radikal yang terjadi pada Paulus disebabkan oleh perjumpaan pribadinya secara langsung dengan Kristus yang sudah bangkit (Kis. 9:1dst.; 22:1dst.; 26:1dst.).

Kisah kehidupan Paulus sebelum menjadi Kristen dan perubahan radikal yang terjadi pada dirinya juga beredar di jemaat Galatia (1:23).

Paulus percaya bahwa ia berjumpa langsung dengan Kristus yang sudah bangkit (risen Christ) yang mengakibatkan pertobatan radikal serta membuatnya menjadi pemberita Injil yang militan serta rela menghadapi penganiayaan dan penderitaan bahkan mati sebagai martir. Poin ini mendapatkan dukungan dari berbagai tulisan menjelang akhir abad pertama hingga periode Bapak-bapak Gereja (Klemens dari Roma, Polikarpus dari Smirna, Tertulianus, Dionisius dari Korintus, dan Origenes).

Peristiwa pertobatan Paulus di atas terjadi sekitar satu tahun setelah Yesus dikabarkan bangkit dari kematian (+ 34 M).

Penilaian Sejarah

Perubahan radikal dan mendadak pada diri Paulus diakui sebagai fakta sejarah oleh para pakar karena memenuhi kriteria atestasi independen (kesaksian Paulus sendiri, Kisah Para Rasul, dan cerita yang beredar di Galatia) serta didukung oleh tulisan-tulisan Bapak-bapak Apostolik dan Bapak-bapak Gereja.

Peristiwa itu juga memenuhi kriteria kesaksian dini dan kisah hidup Paulus sebagai seorang penganiaya sebelum menjadi pengikut Kristus merupakan kisah yang masuk akal secara historis karena sesuai dengan spektrum Yudaisme abad pertama (historical plausibility).

Radikalisme dan militalisme Paulus dalam upayanya memusnahkan gerakan Kekristenan mula-mula lalu diikuti dengan perubahannya yang mendadat dan radikal, juga memenuhi kriteria kesaksian musuh. Paulus tidak mengharapkan pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang bangkit. Sebaliknya, ia percaya bahwa itu adalah kebohongan yang menyesatkan. Namun setelah perjumpaan itu, ia percaya sebaliknya bahkan mendedikasikan hidupnya untuk menyebarluaskan berita kebangkitan Yesus.

Perubahan yang radikal dan mendadak pada diri Paulus merupakan sesuatu yang unik karena menurut dokumentasi-dokumentasi di atas, itu terjadi atas perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit. Hal ini berarti, penyebabnya terjadi atas perjumpaannya dengan “sumber utama” (primary source), bukan karena mendengarnya dari apa kata orang (secondary source).

Sumber-sumber:

  1. Gary R. Habermas, The Risen Jesus and Future Hope (Lanham: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2003).
  2. Gary R. Habermas and Michale R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Grand Rapids, Michigan: Kregel, 2004). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berujudul: Kebangkitan Yesus dalam Gugatan: Bagaimana Menghadapinya?, terj. Anwar Tjen dan Pericles G. Katopo (Jakarta: Perkantas, 2013).
  3. Michael R. Licona, The Resurrection of Jesus: A New Historiographical Approach (Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2011).
  4. William Lane Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus (Lampeter: The Edwin Meller Press, 1989).
  5. T. Wright, The Resurrection of the Son of God (Minneapolis: Fortress Press, 2003).
Advertisements