Kematian Yesus melalui Penyaliban: Fakta Sejarah vs Qur’an

Kematian Yesus melalui penyaliban merupakan sebuah fakta sejarah. Fakta ini bukan hanya disaksikan secara konsisten dalam Injil-injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), melainkan juga sudah muncul dalam tradisi lisan (kerygma) gereja mula-mula yang dikutip dalam 1 Korintus 15:3-8. James D.G. Dunn bahkan percaya bahwa kerygma itu sudah muncul hanya beberapa bulan setelah kabar kebangkitan Yesus.

Eksekusi mati Yesus melalui penyaliban juga diatestasi dalam tulisan-tulisan para sejarahwan non-Krsiten: Josephus (Ant. 18.63-64; sejarahwan Yahudi), Tacitus (Annals 15.44; Sejarahwan Romawi), Lucian dari Samosta (Passing of Peregrimus #11, 13), Mara bar Serapion, juga Talmud. Itulah sebabnya, tidak ada pakar sejarah yang kredibel di planet ini yang meragukan fakta tersebut.

Di sisi lain, kita mendapati sebuah fakta kontras dalam Qur’an yang memberikan pernyataan sebaliknya. Qur’an 4:157-158 percaya bahwa Yesus tidak disalibkan dan tidak mati melalui penyaliban karena Allah telah mengangkat Yesus ke sorga sebelum eksekusi itu dilakukan. Allah bahkan memperdayai orang-orang Yahudi dengan cara mengubah wajah seseorang menjadi serupa dengan wajah Yesus sehingga mereka menyangka menyalibkan dan membunuh Yesus padahal tidak.

Mereka yang menekuni studi Yesus Sejarah (the historical Jesus) tahu persis bahwa informasi dalam QS. 4:157-158 tidak menarik minat pakar sejarah mana pun. Mereka mengabaikannya sama sekali. Bukan karena tidak menarik, bukan pula karena mereka tidak pernah membacanya, melainkan karena tidak memiliki bukti apa pun.

Poin di atas pernah diangkat melalui sebuah pertanyaan pada sesi tanya-jawab dalam perdebatan antara Dr. William Lane Craig (Apologis Kristen) dan Dr. Shabir Ally (Apologis Muslim). Dr Shabir Ally tidak dapat memberikan secuil bukti pun untuk klaim QS. 4:157-158 di atas (tonton di sini). Bahkan, dalam perdebatan antara Dr. Shabir Ally dan Dr. Michael R. Licona, Dr. Shabir Ally mengakui secara eksplisit bahwa kematian Yesus melalui penyaliban memiliki dukungan bukti sejarah yang solid (tonton di sini).

Jika Anda mempercayai klaim QS. 4:157-158, itu urusan Anda. Hanya saja, Anda harus diberitahu dengan sejujurnya bahwa mempercayai klaim QS. 4:157-158 sebagai kebenaran, itu analogis dengan, misalnya, Anda percaya bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 bukan merupakan sebuah sejarah.

Sebab, kematian Yesus melalui penyaliban, dalam kesimpulan riset para pakar Yesus Sejarah, sama pastinya dengan Proklamasi Kemerdekaan RI. Dan ketika saya menyebut “kesimpulan riset,” yang saya maksudkan bukan 70 % atau bahkan 90 %, melainkan itu adalah sebuah konsensus sejarah. It means all of them!

Sampai di sini, Anda bisa mendebat perkara-perkara teologis dalam scopus teologi Kristen. Itu wajar. Itu bukan penistaan agama. Mendebat, menolak, bahkan mengkritisi gagasan teologis mana pun, tidak memiliki nilai penistaan pada dirinya sendiri. Kita semua adalah para pencari (the seekers). Di dalam pencarian itu, adalah hak asasi untuk menerima, termasuk juga menolak bahkan mengkritisi.

Tetapi, kematian Yesus melalui penyaliban tidak dapat Anda buang nilai kesejarahannya hanya demi menyelamatkan klaim sebaliknya. Para pencari berjalan ke mana bukti memimpin mereka. Itu adalah sikap yang seharusnya. Dan bukti-bukti itu menunjuk dengan sangat jelas kepada kematian Yesus melalui penyaliban.

Advertisements