Khotbah yang Baik

Anak kandung Postmodernisme adalah ketidaksabaran pragmatis dan atau keburu-buruan pragmatis. Orang lebih suka bicara “tips” atau “petunjuk-petunjuk praktis” yang siap saji, ketimbang mengambil waktu untuk membentuk paradigmanya terlebih dahulu.

Sayangnya, ketidaksabaran pragmatis di atas telah membentuk mentalitas banyak orang Kristen bahkan para pengkhotbah masa kini. Semua yang mereka sukai adalah “praktis” yang pada gilirannya melahirkan banyak doktrin dan fenomena aneh nan absurd di dalam berbagai Gereja masa kini.

Termasuk kita bisa melihat ketidaksabaran pragmatis di atas dengan lahirnya fenomena gila di dalam Kekristenan masa kini dimana orang tidak mau mengambil waktu mengikuti proses studi terlebih dahulu. Begitu “merasa” terpanggil jadi hamba Tuhan, langsung menyewa ruangan hotel, sound system, alat musik, memasang iklan, mengumpulkan sejumlah orang, lalu berkhotbah. Orang-orang seperti setiap minggu hanya menyajikan omong kosong demi omong kosong berbalut kata-kata rohani dan berpikir mereka sudah melayani Tuhan.

Maka, kalau ada yang bertanya tentang tips-tips berkhotbah yang baik, saya memilih untuk mengajaknya menahan laju nafsu memburu tips-tips itu, dan mengajaknya untuk memikirkan sebuah poin paradigmatis yang paling mendasar terlebih dahulu, yaitu: “apakah khotbah itu?”

Mengenai pertanyaan di atas, saya membaca esai dari D.A. Carson berjudul: “Challenges for the Twenty-First-Century Pulpit,” dalam Leland Ryken & Todd Wilson (eds.), Preach the Word: Essays in Expository Preaching in Honor of R. Kent Hughes (Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2007).

Carson mengemukakan beberapa poin penting mengenai khotbah yang baik yang harus selalu diingat oleh para pengkhotbah.

Pertama, khotbah adalah sebuah “re-revelation” (pewahyuan kembali). Rerevelasi tidak berarti pewahyuan yang sama sekali baru. Tidak ada lagi pewahyuan yang sama sekali baru. Alkitab sudah cukup. Jadi kalau ada orang yang mengatakan dia menerima wahyu baru, dia pasti omong kosong.

Khotbah merupakan momentum dimana pewahyuan yang sudah ada (Alkitab) disingkapkan kembali dalam konteks yang baru. Bukan isinya yang baru melainkan konteks dan caranya yang baru.

Kedua, berdasarkan poin pertama di atas, sebuah khotbah yang baik haruslah khotbah ekspositoris. Khotbah ekspositoris berarti khotbah yang isinya adalah eksposisi Alkitab. 

Pengkhotbah menjelaskan teks yang dikhotbahkannya sesuai dengan maksud originalnya (eksegesis) dan menerangkan signifikansinya bagi para pendengar (aplikasi atau implikasi atau signifikansinya). (a) kedua aspek ini – eksegesis dan aplikasi – harus ada dalam sebuah khotbah dan (b) aplikasi harus berdasarkan eksegesis. Tanpa eksegesis, aplikasi yang Anda kemukakan hanyalah opini tanpa dasar!

Ketiga, khotbah adalah sebuah proklamasi, maka seorang pengkhotbah harus melihat dirinya sebagai seorang duta Kristus yang berdiri dan berkhotbah atas nama Kristus, demi kemuliaan Allah.

Keempat, tujuan dari khotbah adalah kemuliaan Allah. Khotbah harus merupakan pertunjukan kemuliaan Allah, bukan pertunjukan agenda dan curhat si pengkhotbah!

Kepiawaian berkata-kata tanpa representasi yang setia terhadap Allah dan firman-Nya, hanya merupakan alat penyesatan yang sangat efektif.

Dan kelima, khotbah itu harus kontekstual, dalam arti seorang pengkhotbah harus mengetahui konteks dimana ia berkhotbah sehingga ia dapat menjelaskan firman Tuhan dengan cara yang dapat dipahami audiensnya.

 

Advertisements