Menggelinding Sebongkah Batu Absurd

 “Menggelinding Sebongkah Batu Absurd,” menggemakan kisah sebuah mitologi kuno dalam karya Homeros, Iliad dan Odyssey: Sisifus. Atas kejahatannya, Sisifus diharuskan mengangkat sebongkah batu bulat ke atas gunung lalu menggelindingkannya kembali ke bawah. Begitu seterusnya hingga kekekalan. Sebuah aktivitas yang tanpa makna.

Para filsuf eksistensialis yang bergulat dengan filsafat makna, makna hidup, menggunakan mitos Sisifus untuk bergulat dengan problem absurditas. Albert Camus, filsuf yang terkenal sebagai seorang absurdis asal Prancis, menganggap hidup ini tetap layak dihidupi meski absurditas merupakan sesuatu yang tak terelakan. Ia bahkan menobatkan Sisifus sebagai seorang pahlawan.

Sebaliknya, Richard Taylor melihat Sisifus sebagai simbol dari kehidupan yang hanya berisi aktivitas-aktivitas berulang (repetitions). Mungkin seperti kata Pengkhotbah: “Segala sesuatu menjemukan” karena “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi,” lalu menyimpulkan “tidak ada yang baru di bawah matahari.” (1:8,9).

Taylor melihat Sisifus sebagi simbol ketidakbermaknaan, sementara Sang Pengkhotbah melihat pengulangan-pengulangan itu sebagai sebuah “kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (1:14).

Tuturan kehidupan ini, bahkan kehidupan pelayanan, kadang-kadang memaksa kita menggangguk kepada Sisifus dan menelan kesimpulan Sang Pengkhotbah.

Mereka yang seumur hidup mendedikasikan segala sesuatunya untuk membangun dan mengembangkan pelayanan hanya untuk mereka hancurkan dengan tangan mereka sendiri menjelang masa tua mereka.

Mereka menjadi keras kepala, tidak mau lagi diberi masukan, defensif, otoriter, tidak bisa menerima kenyataan bahwa estafet itu sudah seharusnya dialihkan.

Pada akhirnya, mereka menutup mata dengan meninggalkan banyak sayatan luka, perpecahan, bahkan amblasnya karya seumur hidup mereka sama sekali.

Memang mereka sedikit berbeda dengan Sisifus. Sisifus mengetahui jelas hukumannya di awal sebelum ia memulai aktivitas absurd itu. Di sisi lain, mereka yang saya rujuk di atas bahkan mungkin tidak berkesempatan menyadari bahwa mereka hanya menggeluti sebuah aktivitas absurd semasa hidup mereka.

Dalam hal itu, kita bisa menyebut Sisifus lebih beruntung!

Namun, pada esensinya, mereka tiada berbeda dengan sisifus: mengangkat sebongkah batu hingga ke puncak hanya untuk menggelindingkannya kembali ke lereng yang curam.

Mereka bukan kekurangan pengalaman. Bukan pula kekurangan pengetahuan. Kekurangan fatal mereka adalah bahwa mereka telah berhenti mengingatkan diri mereka tentang sebongkah batu absurd yang pernah digelinding oleh Sisifus.

Tidak ada yang bisa menepuk dada sekarang: “Saya bukan Sisifus.” Maka kita harus berdoa supaya nanti kita tidak begitu.

Advertisements