Memberi yang Anda Miliki: Refleksi Tragedi Surabaya

Ibarat rentang helaan nafas setelah kasus Mako Brimob, hari ini, Minggu 13 Mei 2018, kembali lagi aksi terorisme terjadi. Tiga gereja di Surabaya dibom dengan korban tewas 10 orang dan lebih dari 40 orang luka-luka (data terkini).

Siapa pun di Bumi Pertiwi, bahkan seluruh dunia, telah dibuat muak, perih, marah, dan geram atas berbagai aksi terorisme di seluruh belahan dunia, yang anehnya meningkat semakin tajam sejak peristiwa 9/11.

Dan kita memang berhak muak, marah, geram, bahkan membenci ideologi yang telah meracuni dan memotori para teroris biadab itu. Terorisme dan para teroris, namun yang lebih penting lagi, ideologinya, adalah musuh peradaban!

Tidak ada yang baru di bawah matahari, tandas Sang Qohelet (Pengkhotbah). Maka kita perlu bertanya, pola konseptual apa yang berulang dalam baris-baris aksi inhumane (tidak manusiawi) tersebut?

Jawabannya jamak. Orang bisa memunculkan jawaban yang berbeda namun tidak mutually exclusive. Saya melihat, pola berulang itu adalah prinsip “memberi yang yang Anda punya”.

Anda tidak dapat memberikan yang tidak Anda miliki. Selalu yang Anda berikan adalah “apa yang ada padamu”. You can only give what you have.

Anda melihat akun medsos seseorang dan mendapati penekanan kuat postingan-postingannya adalah tentang keluarga, itu mencerminkan yang dimilikinya adalah keluarga.

Anda membaca postingan demi postingan mengenai pengetahuan, itu berarti the most precious thing in his/her life is knowledge.

Jika yang ia posting adalah paha, dada, dan bokong, Anda bisa tahu bahwa hanya itu “kualitas” terbaik yang dia miliki.

Semua orang hanya bisa memberi yang mereka punya. Lebih daripada itu, tidak ada. Jika Anda memberi yang tidak Anda punya, itu hanya penipuan diri dan kedok.

Para teroris itu pun begitu. Mereka memberi yang mereka punya: kebencian terhadap kemanusian, kultur kematian, nafsu membunuh, dan anti-kehidupan yang damai dalam keragaman.

Tulisan ini pun lahir dari memberi apa yang saya punya. Saya mengasihi kehidupan, maka saya membenci mereka yang membenci kehidupan. Saya percaya bahwa orang dapat hidup berdampingan meski berbeda iman dan keyakinan dengan saya, maka saya menganggap sampah mereka yang membunuh orang-orang hanya karena berbeda iman dan keyakinan.

Lebih daripada itu, saya memiliki Tuhan yang pernah berseru: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tuhan yang sama juga mengajari saya: “Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

For sure, para teroris itu tidak memiliki apa yang Tuhan saya miliki di atas. Jadi apa yang Anda harap mereka akan lakukan ketika yang mereka miliki adalah yang sebaliknya?

Apa yang Anda value sebagai hal terpenting dalam hidupmu, adalah Tuhan bagimu, entah itu Tuhan yang benar atau berhala.

Dan pada akhirnya, we became what we worship, demikian kata Profesor Greg K. Beale.
Mereka meneror, membunuh, membenci, dan menebarkan kengerian di seluruh dunia, karena they’ve became what they worship, Iblis (Yoh. 8:42)!

Advertisements