Tiga Ciri Orang yang Harus Anda Hindari dalam Berdiskusi

theavoidPertama, Orang yang tidak paham implikasi komentar/argumennya sendiri bahkan setelah berkali-kali Anda perlihatkan.

Tahukah Anda, memahami implikasi logis dari pandangan sendiri dan/atau pandangan orang lain, adalah salah satu ciri kewarasan?

Orang yang tidak paham implikasi komentar atau klaimnya atau pandangannya sendiri setelah berkali-kali Anda perlihatkan, mungkin bukan orang yang tidak waras, namun setidaknya ia tidak memiliki salah satu ciri kewarasan. 

Kedua, orang yang bermotto: “Yang komentar paling banyak dan yang paling terakhir yang memenangkan diskusi.

Orang seperti ini tidak peduli dengan benar atau salah. Yang ia pedulikan hanya terus berkomentar hingga lawan diskusinya menjadi malas meladeni. Dengan demikian dia merasa menang. Dia merasa menang bukan karena benar tetapi karena paling banyak berkomentar dan berkomentar paling terakhir.

They simply don’t know when to stop.

Anda hanya akan membuang waktu dan energi dalam berdiskusi. Orang seperti ini maju tak gentar, berkomentar tak henti-henti, soal salah benar dia tak peduli. Yang penting komentar.

Ciri orang cerdas adalah ia tahu kapan harus berhenti tak peduli seberapa kuat ia ingin melanjutkan diskusi. Mengapa Anda harus membuang waktu untuk orang yang tidak peduli benar/salah?

Dan ketiga, orang yang isi komentarnya mengandung caci maki dan sejenisnya.

Anda berdiskusi atau berdialog untuk bertukar pikiran sehat dan bernas, bukan untuk bertukar caci maki seakan-akan ada perlombaan mencari orang yang paling kuat bertahan mencaci maki orang lain.

Saya sudah berdiskusi, berdebat, berpolemik di berbagai konteks: sesama seminarian, diskusi teologis dengan orang-orang Muslim, diskusi isu-isu hukum dan politik dalam konteks kenegaraan di forum nasional. Tapi saya tidak membuang energi meladeni orang-orang dengan ciri-ciri di atas. Begitu ada salah satu indikasi di atas, saya langsung pamit.

Anda tidak kalah jika memutuskan mengakhiri diskusi dengan orang-orang begitu. Anda hanya menyimpan energi dan waktu dan pemikiran Anda untuk kesempatan lain, bukan membuangnya secara sia-sia. Dalam konteks ini, Anda perlu mengingat peribahasa: “Jangan melempar mutiara kepada babi sebab ia mungkin akan berbalik dan mencabik engkau.”

Advertisements