Istilah “Tritunggal” Tidak Ada dalam Alkitab?

The TrinitySatu lagi keberatan popular terhadap Tritunggal adalah bahwa istilah “Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab. Karena istilah tersebut tidak ada dalam Alkitab, maka Doktrin Tritunggal itu tidak alkitabiah bahkan salah.

Benar bahwa istilah “Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab. Tetapi, menjadikan hal ini sebagai alasan untuk membangun keberatan terhadap Doktrin Tritunggal, merupakan keberatan paling cetek (paling tidak pintar) di antara semua keberatan lainnya. 

Pertama, keberatan ini semata-mata membangun argumen pada tingkat kata – sebuah cara berargumen yang tidak memiliki kekuatan persuasif apa pun di dalamnya.

Misalnya, Anda tidak dapat mengatakan bahwa Islam tidak boleh mengajarkan Doktrin Tauhid (sebutan khas untuk Monotheisme Islam) semata-mata karena kata “Tauhid” tidak ada dalam Qur’an. Dan memang kata “Tauhid” tidak ada dalam Qur’an.

Kedua, istlah-istilah seperti “Tritunggal,” atau “Tauhid,” ada dalam kategori terminus technicus (istilah teknis). Istilah teknis tidak wajib digunakan karena eksistensi istilah itu sendiri, melainkan muatan makna yang diusungnya. 

Sebuah terminus technicus selain digunakan untuk tujuan keringkasan (brevity) melainkan juga sebagai alat pedagogis (pedagogical device).

Implikasinya, keberatan atau kritikan terhadap sebuah istilah teknis akan menjadi tidak persuasif jika arah kritikan itu ditujukan kepada istilah itu per se, bukan pada kandungan atau muatan maknanya.

Jadi, isunya adalah apakah muatan makna atau ajaran yang terkandung dalam istilah teknis semisal “Tritunggal” terdapat dalam Alkitab atau tidak, bukan soal istilah itu sendiri ada di dalam Alkitab atau tidak.

Bahkan, jika eksistensi istilah dalam sumber original (original sources) yang harus menjadi patokan, maka Anda bahkan harus membangun doktrin dalam bahasa asli Alkitab (Ibrani, Aramaik, dan Yunani Koine), bukan dalam bahasa lain. Dan ini absurd!

Dan ketiga, kesimpulan dari argumen yang dibangun berdasarkan ketiadaan istilah “Tritunggal” adalah sebuah sesat pikir (logical fallacy) bernama non sequitur, yaitu bahwa kesimpulannya tidak diharuskan oleh premisnya.

Jadi, barangsiapa hendak mendendangkan kritikan terhadap Doktrin Tritunggal berdasarkan ketiadaan istilah “Tritunggal” dalam Alkitab, memang harus menari solo dengan iringan irama non sequitur. 

Keberatan semacam ini lebih daripada sekadar layak untuk diibaratkan seperti seorang anak kecil yang mengarahkan tembakan pistol air ke sebuah pohon raksasa sambil meloncat kegirangan membayangkan pohonnya tumbang. Ia hanya ingin bersenang-senang, tidak lebih!

Advertisements