Doktrin Tritunggal Itu Sulit?

The TrinityKeberatan ini umumnya berasal dari pihak Mulims yang melakukan propaganda komparatif antara Doktrin Tritunggal dan Tauhid.

Saya pernah menonton sebuah dakwah Islamik di acara Deen Show. Dalam dakwahnya, ia mengatakan bahwa Tauhid itu sangat sederhana, sedemikian sederhananya sehingga anak laki-laki dan anak perempuan Anda yang masih kecil bisa memahaminya.

Sebaliknya, di youtube beredar video-video kesaksian para mualaf dengan poin yang ditonjolkan adalah bahwa Tritunggal itu menimbulkan kebingungan dan sangat sulit dipahami.

Kesimpulan yang tidak dinyatakan dengan jelas namun dimaksudkan begitu (unstated but intended conclusion) dari poin di atas adalah bahwa karena Doktrin Tritunggal itu rumit dan kompleks maka tidak benar. Sebaliknya, karena Tauhid itu sederhana dan gampang hingga dapat dipahami anak kecil maka pasti benar.

Well, kita sekali lagi mendapatkan irama sesat pikir (logical fallacy) yang sudah saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya, yaitu non sequitur, kesimpulan yang tidak nyambung dengan premisnya. Rumit atau kompleks tidak pernah menjadi kriteria benar atau salah. Demikian juga sederhana dan gampang bukan merupakan kriteria benar atau salah.

Lagi pula, mengatakan bahwa karena Tauhid itu gampang dan sederhana maka benar, merupakan argumen bunuh diri. Karena implikasi dari argumen ini adalah doktrin ketuhanan yang ada dalam Tauhid sedemikian kecilnya sehingga bisa ditampung dalam otak sekecil yang dimiliki anak kecil. Ini adalah penghujatan terhadap natur transenden Allah.

Sebaliknya, kita justru expecting bahwa Doktrin Ketuhanan itu rumit dan kompleks. Mengapa? Karena Allah memang menyingkapkan tentang Diri dan Kehendak-Nya melalui pewahyuan, namun ingat bahwa Allah itu transenden – sedemikian transendennya sehingga ia melampaui segala kapasitas dan kemampuan manusia untuk memahami-Nya secara penuh.

Pikiran manusia ibarat sebuah gayung kecil di tepi pantai yang maha luas. Dapatkan pikiran manusia menampung seluruh samudra raya di dalamnya? Itulah sebabnya, Agustinus pernah menyatakan dalam bahasa Latin: Si comprehendis non est deus (“Jika Anda mengira mampu memahami Tuhan [secara penuh], itu pasti bukan Tuhan yang sebenarnya.”)

Advertisements