Doktrin Tritunggal dan Oneness Pentecostalism

The TrinityRumusan Doktrin Tritunggal, sekali lagi, “Tiga Pribadi, Satu Esensi.” Tiga Pribadi tersebut berbeda satu sama lain, namun setara dan berelasi dalam persekutuan kasih yang sempurna dan harmonis satu sama lain. Bukan Tiga Allah, melainkan Satu Allah dalam Tiga Pribadi yang berbeda. Ini adalah rumusan Pengakuan Iman Kekristenan historis.

Sejak tahun 1914 dalam gerakan Sidang Jemaat Allah (Assemblies of God) lahir sebuah aliran doktrinal yang hingga kini disebut “Oneness Pentecostalism” (akan disingkat: OP). Sebutan lain dari OP adalah “Jesus Only”. Kelahiran OP sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1911 oleh Glan Cook dan Frank Ewart.

OP menolak Doktrin Tritunggal seperti yang saya ringkas di atas. OP percaya bahwa Allah adalah Satu baik dalam Esensi maupun Pribadi-Nya. Jadi, secara umum OP ada pada kategori Unitarianisme.

Namun, rumusan Unitarianisme yang dianut OP berkiblat kepada ajaran Sabelianisme atau Modalisme yang sudah muncul pada paroh akhir abad kedua melalui ajaran Noetus dari Smirna dan pada awal abad ketiga Masehi oleh Praxeus (juga Epigonus dan Cleomenes). Kita mengetahui mengenai ajaran Praxeus dari tulisan apologetika Tertulianus berjudul: Against Praxeus.

Ringkasnya, Modalisme atau Sabelianisme percaya bahwa Allah adalah SATU PRIBADI yang menyatakan diri dalam TIGA PERAN yang berbeda. OP menerima rumusan ini dan mengajarkan bahwa Allah menyatakan diri dalam penciptaan sebagai Bapa, dalam karya penebusan sebagai Anak, dan dalam karya kelahiran baru sebagai Roh Kudus.

Dengan kata lain, OP mengaku bersama Modalisme dan Sabelianisme bahwa: Bapa, Anak, dan Roh Kudus, hanyalah sebutan yang berbeda untuk Pribadi yang sama.

Aplikasi dari doktrin di atas terlihat dalam formula liturgis baptisan yang mereka gunakan, sebagaimana yang terlihat dalam dua alternatif berikut:

  • Ketika baptisan dijalankan, orang dibaptis “Dalam nama Yesus” (tanpa rumusan: “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”).
  • Atau kadang-kadang mereka menggunakan formulasi: “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus” (perhatikan bahwa formulasi ini tetap mengintonasikan penekanan pada SATU PRIBADI dengan tiga sebutan yang berbeda).

Selain itu, OP percaya bahwa cara baptisan yang tepat, yaitu baptisan selam merupakan necessary condition (syarat perlu) untuk keselamatan. Orang-orang yang pernah menerima baptisan percik misalnya, harus dibaptis ulang secara selam supaya memenuhi syarat perlu tersebut guna diselamatkan.

Selanjutnya, OP menegaskan bahwa bukti yang paling jelas bahwa seseorang sudah diselamatkan adalah bahasa Roh. Bahasa Roh membuktikan bahwa orang tersebut telah lahir baru dan telah dibaptis dengan Roh Kudus. Itulah sebabnya, mereka mengharuskan para anggota mereka untuk berbahasa Roh sebagai demonstrasi bahwa mereka telah diselamatkan dan bahwa mereka memiliki kebenaran.

Singkat saja, OP adalah ajaran sesat atau bidat yang sebenarnya hanya menggunakan “jubah baru” dengan “isi usang” dari Modalisme dan Sabelianisme yang telah dikutuk oleh Bapa-bapa Gereja sebagai bidat.

Gereja menyatakan Sabelianisme-Modalisme dan OP sebagai ajaran sesat (bidat) karena, sebagaimana yang dinyatakan oleh John M. Frame: “Di dalam Alkitab, adalah jelas, sebagaimana yang kita lihat, bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Allah dan, selanjutnya, ketiganya adalah pribadi-pribadi yang berbeda satu sama lain.” Frame memperlihatkan berbagai data Alkitab untuk membuktikan hal ini (Mzm. 2:7; 110:1; Mat. 11:27; Mrk. 13:32; Yoh. 1:1-2; 3:16; Gal. 4:4-6; Mrk. 14:36; Yoh. 17; dll.), kemudian melanjutkan: “Tidak satupun dari semua data ini dapat dibaca secara masuk akal berdasarkan Modalisme.” (John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief [Epub version; Phillipsburg, New Jersey: P&R, 2013], loc., 372/1108).

Advertisements