Doktrin Tritunggal dan Qur’an

The TrinityAnda tentu masih ingat celotehan Habib Rizieq beberapa waktu lalu tentang Yesus: “Kalau Tuhan itu beranak, siapa bidannya?” Celotehan Rizieq di sini mengasumsikan bahwa Yesus disebut Anak Allah dalam kategori biologis.

Juga celotehan Egy Sudjana yang mengasumsikan bahwa hanya Islam yang memenuhi kriteria Sila Pertama Pancasila karena Kekristenan percaya akan Trinitas. Jelas Egy Sudjana memahami Trinitas bukan dalam kategori Monotheisme melainkan Politheisme.

Saya tidak percaya bahwa celotehan-celotehan di atas harus dimaknai sebagai “penistaan agama“. Agama dalah suatu set doktrinal yang tidak punya dignity atau hak asasi personal yang harus dilindungi sebagaimana halnya manusia. Anda hanya bisa menista orang atau person, tapi Anda tidak bisa menista sebuah gagasan, ideologi, ajaran, atau doktrin. Maka istilah “penistaan agama” merupakan sebuah oksimoron (oxymoron).

Kita perlu mengingat definisi toleransi yang dikabarkan berasal dari Voltaire, yang berbunyi demikian: “Saya menolak apa yang Anda katakan, namun saya membela mati-matian hakmu untuk mengatakannya.

Adalah lebih tepat melihat fenomena Rizieq dan Sudjana di atas dalam kategori “kritikan“. Dan tidak ada alasan logis mana pun untuk melarang orang memberikan kritikan, termasuk mengkritik sebuah ideologi atau agama tertentu. Kritikan merupakan bagian tidak terpisahkan dari edukasi serta dinamika pencarian dan kecintaan akan kebenaran.

Dengan meletakan dasar paradigmatis fundamental di atas, sebagai seorang Kristen yang mencintai kebenaran, dan sebagai seorang akademisi, saya wajib untuk memastikan bahwa penggambaran Qur’an yang menjadi dasar dari penolakan Muslims di seluruh dunia akan Doktrin Tritunggal adalah penggambaran yang akurat.

Hal di atas sangat signifikan. Karena sebelum Anda mengkritik sebuah pandangan, pertama-tama Anda harus memastikan bahwa Anda memahami pandangan yang Anda kritik itu secara akurat. Jika tidak, maka sangat berpotensi Anda memberikan kritikan-kritikan yang salah sasaran.

Saya telah melakukan riset tersebut yang tertuang dalam tulisan yang dapat Anda baca di bawah. Kesimpulan saya, semua bagian dalam Qur’an yang memberikan gambaran mengenai pemahaman penulis Qur’an akan Doktrin Tritunggal, terkategori straw man – salah sasaran – karikatur – misrepresentasi.

Anda dapat membaca atau mengunduh tulisan tersebut dengan mengklik tautan berikut: Doktrin Tritunggal dan Qur’an: Akuratkah Penggambaran Qur’an mengenai Doktrin Tritunggal?

 

Advertisements