Doktrin Tritunggal dan Saksi-saksi Yehuwa

The TrinityDalam tulisan sebelumnya, saya memperlihatkan bahwa penolakan Oneness Pentecostalism atau Jesus Only terhadap Doktrin Tritunggal sebenarnya hanya merupakan “bungkusan baru” dari sebuah ajaran sesat abad kedua dan abad ketiga yaitu Sabelianisme-Modalisme.

Mirip dengan itu, Saksi-saksi Yehuwa, yang pendirinya adalah Charles Taze Russell (1852-1916), juga menolak Doktrin Tritunggal, bukan dengan meminjam Sabelianisme-Modalisme, melainkan Arianisme.

Arianisme percaya bahwa Yesus adalah ciptaan yang pertama, ciptaan yang sulung, yang berinkarnasi di dalam Kristus. Namun Arius menyatakan, “Ada saat dimana Ia tidak ada” (“There was when he was not“). 

Mengenai natur Kristus, Arianisme mengemukakan dua variasi pandangan. Pertama, natur Kristus mirip dengan Bapa (Yun. homoiousios). Dan kedua, lebih ekstrim lagi, natur Kristus tidak seperti Bapa (Yun. anomoios).

Berkiblat kepada ajaran di atas, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa Yesus adalah ciptaan yang pertama. Melalui Dia atau di dalam Dia, segala sesuatu yang lain diciptakan. Sebelum inkarnasi-Nya, Yesus adalah Penghulu Malaikat bernama Mikhael. Setelah naik ke sorga, Yesus kembali lagi ke posisi-Nya sebagai Penghulu Malaikat tersebut.

Untuk menunjang pandangan mereka mengenai Yesus seperti di atas, ada beberapa bagian Alkitab yang selalu mereka jadikan rujukan, yaitu Amsal 8:22; Kolose 1:15; dan Wahyu 3:14.

Bagaimana dengan Roh Kudus? Menurut Saksi-saksi Yehuwa, Roh Kudus bukanlah Pribadi Ilahi (Divine Person), melainkan hanya kekuatan ilahi atau kuasa ilahi (Divine Force atau Divine Power).

Jadi, sama seperti Oneness Pentcostalism dan Islam, Saksi-saksi Yehuwa tergolong Unitarianisme. Namun natur Unitarianisme ketiga pandangan ini berbeda satu sama lain. Oneness Pentocostalisme adalah Unitarianisme yang Sabelianistik atau Modalistik, Islam adalah Unitarianisme yang solitarianistik, sedangkan Saksi-saksi Yehuwa adalah Unitarinisme yang Arianistik.

Di dalam sejarah Gereja, kontroversi dengan para penganut Arianismelah yang memicu diadakannya Konsili Nicea (325 M) yang kemudian melahirkan Pengakuan Iman Nicea (Nicean Creed). Di dalam Konsili Nicea pula, Arianisme telah ditolak oleh Bapa-bapa Gereja sebagai ajaran sesat (bidat).

Dengan demikian, kita tidak perlu lagi memberikan evaluasi tersendiri lagi untuk pandangan Saksi-saksi Yehuwa.

Meski demikian, menarik untuk dicermati bahwa dalam rangka mendukung pandangan mereka mengenai Yesus, Saksi-saksi Yehuwa bahkan dengan sengaja memberikan terjemahan yang menyimpang dari naskah asli PB pada beberapa bagiannya. Kita bisa melihat hal ini dalam versi Alkitab Saksi-saksi Yehuwa yang dikenal dengan nama New World Translation atau Terjemahan Alkitab Dunia Baru.

Misalnya, Yohanes 1:1c, klausa kai theos en ho logos diterjemahkan dalam New World Translation menjadi “dan firman itu adalah suatu Allah” (“and the word was a god“). Penerjemahan seperti ini memperlihatkan upaya tendensius untuk mendukung Kristologi mereka ketimbang memperlihatkan pengetahuan yang baik mengenai tata bahasa Yunani Koine.

Klausa hoti en auto ektisthe ta panta (“Sebab di dalam Dia segala sesuatu diciptakan“) pada Kolose 1:16a, dalam New World Translation, terjemahkan menjadi: “Sebab melalu dia segala sesuatu yang lain diciptakan” atau “Because by means of him all other things were created). Perhatikan bahwa New World Translation menambahkan kata “hal-hal lain” (all other things) dalam klausa itu, walau kata itu tidak ada dalam naskah Yunaninya.

Sebenarnya, dalam Kolose 1:16-17, sebanyak empat kali para penerjemah New World Translation menambahkan kata “hal-hal lain” meski kata itu tidak ada dalam naskah Yunani PB.

Jadi, kita melihat sebuah upaya serius yang disetir oleh agenda Kristologi Saksi-saksi Yehuwa yang bahkan membuat mereka harus mencurangi naskah asli PB dalam versi Alkitab yang mereka gunakan.

 

Advertisements