Siapakah Aku? (Puisi Dietrich Bonhoeffer)

Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Jerman yang hidup pada masa Nazi. Ia dipenjara karena anti-Nazi dan terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Hitler selama Perang Dunia Kedua. Salah satu puisi yang ia tulis dari dalam penjara, berjudul: “Who am I?” Puisi ini akan saya terjemahkan di sini.

Siapakah Aku?

Siapakah aku? Mereka sering bilang padaku
aku berjalan dari ruang tahananku dengan tenang, riang, dan teguh
laksana tuan kaya raya berjalan dari rumah megahnya.

Siapakah aku? Mereka sering bilang padaku
saya biasa bicara dengan para sipir penjara
dengan bebas dan bersahabat dan jelas
padahal akulah yang harus mendengar kata-kata mereka.

Siapakah aku? Mereka juga bilang padaku
aku menanggung hari-hari malangku
dengan biasa saja, tersenyum, bangga,
laksana orang yang sudah dipastikan untuk menang.

Apakah aku sebenarnya adalah semua yang dikatakan orang-orang itu?
Atau aku adalah pribadi yang hanya diriku sendiri yang mengenalnya?
Gelisah dan berhasrat dan penyakitan, laksana seekor burung dalam sangkar,
berjuang untuk sekadar bisa bernapas, seakan-akan ada tangan-tangan kasar
yang menekan tenggorokanku,
rindu akan warna-warni, bunga-bunga, suara kicauan burung-burung,
haus akan kata-kata lembut, sanak-saudara,
menghambur ke arena peristiwa-peristiwa besar,
gentar tak berdaya bagi sahabat-sahabat nun jauh di sana,
letih dan hampa saat berdoa, berpikir, bertindak,
lesu, dan siap mengucapkan selamat tinggal untuk semuanya?

Siapakah aku? Pribadi yang ini atau pribadi yang lain?
Apakah aku adalah pribadi hari ini dan besok pribadi yang lain?
Atau keduanya pada saat yang sama? Seorang munafik di hadapan sesama,
sementara di hadapan diriku sendiri seorang melarat yang hina dan sekarat?
Atau sesuatu di dalam diriku laksana serdadu dipukuli,

kabur dalam kegaduhan dari kemenangan yang telah dicapai?
Siapakah aku? Mereka mengolok aku, pertanyaan-pertanyaan sepi milikku.

Siapakah aku sebenarnya, Engkau mengenalku, Aku adalah milikmu, oh Tuhan.

Pada puisi di atas, “Siapakah aku?” muncul sebanyak 5 kali, sedangkan “mereka” adalah para sipir penjara. Kelihatannya para sipir penjara tersebut memberikan opini positif mengenai Bonhoeffer.

Dari segi alurnya, “Siapakah aku?” dijawab oleh tiga pihak. Pertama, para sipir penjara; kedua, Bonhoeffer sendiri; dan ketiga, puncaknya adalah Tuhan sendiri. Bonhoeffer bergulat dengan apresiasi positif dari para sipir penjara mengenai dirinya yang ia rasakan sebagai kontras tajam dengan yang ia kenal dari dirinya mengenai dirinya sendiri. Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa diolok-olok oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Pada akhirnya, bukan kata para sipir penjara, bukan pula kata dirinya sendiri, melainkan yang paling penting adalah kata Tuhan mengenai dirinya: “Engkau mengenalku, Aku adalah milikmu, Oh Tuhan.”

Advertisements