Kekerasan Allah di Kandang Babi

Kekerasan Allah? Bukan. Ini bukan tentang para teroris Islamik. Ini bukan tentang teks-teks PL yang diduga (dugaan yang salah!) merupakan teks-teks genosida. Ini tentang Ketuhanan Allah.

Ketuhanan Allah (the Lordship of God) adalah a great horror. Jika Tuhan adalah Tuhan, maka kita bukanlah pusat alam semesta. Jika Tuhan adalah Tuhan, maka zona nyaman pemberhalaan diri bersama lusinan bahkan ratusan berhala-berhala lain yang kita sembah dengan giat dan riang sepanjang waktu harus dihancurkan. Hobi, uang, keindahan tubuh, medsos, keluarga (!)…daftar yang akan sangat panjang. Dan kita tidak ingin menghancurkannya. Kita menikmatinya. Kita menyenanginya.

Maka ya Ketuhanan Allah adalah sebuah horor dasyat. Atau, Tuhan harus menjadi bukan Tuhan demi para berhala itu! Degoding God!

Melihat dengan jelas bahwa pewahyuan mengenai Ketuhanan Allah sebagai sebuah horor dasyat bukanlah hal buruk. Itu justru baik. Itu adalah sebuah initial moment dimana kita mulai melihat kecelakaan dan kebangkrutan diri kita.

Sayangnya, dan ini sangat mengerikan, berhala-berhala itu menimbulkan kabut pada horizon (baca: kaca mata) yang kita gunakan untuk memandang realitas. Berhala-berhala itu membuat kita bahkan tidak mampu lagi menangkap keagungan dari horor dasyat pewahyuan itu. Dan “kita” di sini adalah orang-orang yang religius. Lewis membedahnya dengan tepat, demikian: “People who are naturally religious find difficulty in understanding the horror of such a revelation.” (1955: 227).

Dalam terang kesadaran kurungan mahakuat para berhala itu di satu sisi, dan di sisi lain initial moment dimana Lewis mulai melihat kecelakaan dirinya di hadapan Ketuhanan Allah, Lewis menyerah. Ia bertobat.

Lewis menggambarkannya begini,

Anak yang Hilang itu pada akhirnya berjalan pulang ke rumah. Tetapi siapa yang secara tepat dapat memuja Kasih yang membuka gerbang itu bagi anak terhilang yang dibawa pulang sambil menendang, meronta, kecewa, dan melengok ke segala arah untuk kembali melarikan diri? Kata-kata paksaan dalam diri, memaksa mereka untuk masuk, telah disalahgunakan oleh orang-orang jahat ketika kita merasakan kengerian kata-kata itu; tetapi jika dimengerti secara tepat, itu persis merupakan kedalaman belas kasihan Ilahi. (1955: 229).

Lewis menyatakan dua hal, setidaknya, dari gambaran tersebut. Pertama, berhala-berhala itu tidak ingin kehilangan tawanan dan kita senang menjadi tawanan berhala-berhala itu. Maka, ketika sadar untuk harus kembali kepada Tuhan pun, itu harus merupakan sebuah paksaan, sebuah kekerasan, kekerasan yang memaksa kita untuk pulang.

Dan kedua, kekerasan Allah yang memaksa kita untuk meninggalkan berhala-berhala itu persis merupakan ekspresi belaskasihan Ilahi. Ini adalah Injil. Injil Kasih Karunia. Injil Kasih Karunia itu tidak membujuk, tidak membelai, tidak memuji orang-orang berdosa seakan-akan Tuhan membutuhkan mereka untuk kembali. Ia harus merupakan sebuah “paksaan” agar mereka dapat kembali. Injil adalah kekerasan Allah!

Kekerasan Allah? Perhatikan kata-kata Lewis persis setelah kutipan di atas: “The hardness of God is kinder than the softness of men, and His compulsion is our liberation.” (“Kekerasan Allah lebih baik daripada kelembutan manusia, dan paksaan-Nya adalah pembebasan kita.”). (1955: 229).

Gambaran Lewis terasa kurang lengkap jika kita mengabaikan satu detail penting dalam Perumpamaan yang dialusi Lewis. Anak terhilang itu “dipaksa” kembali persis ketika ia mendapati dirinya makan ampas makanan babi di kendang babi.

Berkhotbah dari bagian itu, saya selalu mengakhirinya: “Jangan sampai harus berakhir di kandang babi baru sadar untuk kembali.” Sayangnya, kita mungkin lebih suka mengalami kekerasan Allah di kandang babi. Semoga tidak!

**Refleksi ini saya tulis berdasarkan autobiografi C.S. Lewis berjudul: Surprised by Joy [New York: Harcourt, Brace, and World, 1955).

 

 

 

 

 

Advertisements