Home

Mengapa Muslims Harus Membayar Zakat?

Comments Off on Mengapa Muslims Harus Membayar Zakat?

Muslims seringkali memunculkan isu Kristenisasi di Indonesia. Isu yang sebenarnya hanya isapan jempol saja, seperti biasa. Menebar kebohongan, adalah salah satu keahlian teologis Muslims (taqiya). Muslims terbiasa mengklaim tanpa bukti – yang penting klaim dan klaim lalu nanti mereka menuntut orang lain yang harus membuktikan (shifting the burden of proof).

Mari kita asumsikan saja bahwa “Kristenisasi” adalah sebuah terminologi yang memuat etika yang buruk. Jika ada “Kristenisasi,” itu harus dianggap sebagai penyimpangan terhadap ajaran Kristen. Orang tidak boleh dibawa kepada Kekristenan dengan kecurangan, misalnya dengan menggunakan uang untuk membayar mereka agar menjadi Kristen. Satu-satunya daya tarik yang menjadi inti berita Kristen adalah Injil kasih karunia, penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus sebagai inti beritanya. More

Advertisements

Apologetika Defensif dan Ofensif: Dialog Yesus dan Orang-orang Saduki (Mat. 22:23-33)

Comments Off on Apologetika Defensif dan Ofensif: Dialog Yesus dan Orang-orang Saduki (Mat. 22:23-33)

Yesus adalah seorang apologet, seorang pakar persuasi rasional pada masa hidup-Nya, sesuatu yang dapat kita baca dalam banyak bagian dalam Kitab-kitab Injil. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas sebuah contoh nyata mengenai aktivitas apologetis Yesus dengan mengamati dialog Yesus dan orang-orang Saduki mengenai kebangkitan orang mati.

Matius mencatat bahwa orang-orang Saduki merancang sebuah jebakan dilematis bagi Yesus dengan mengangkat isu mengenai kehidupan setelah kematian. Kita mengetahui bahwa orang-orang Saduki “terkenal akan penolakan mereka terhadap kebangkitan, sebuah keyakinan yang menempatkan mereka sebagai oposisi dari orang-orang Farisi maupun para pengikut Yesus.” Mereka menolak tradisi-tradisi oral dari golongan Farisi, termasuk hanya menerima Pentateukh sebagai acuan otoritatif bagi iman mereka. (M.L. Strauss, “Sadducees,” in Joel B. Green, Jeannine K. Brown, and Nicholas Perrin (eds.), Dictionary of Jesus and the Gospels (2nd ed.; Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2013), 824-825). More

Paulus Pembajak Injil yang Asli seperti Klaim Muslims?

Comments Off on Paulus Pembajak Injil yang Asli seperti Klaim Muslims?

Klaim bahwa Paulus adalah “pendiri” (founder) Kekristenan atau bahwa Paulus telah membajak (hijack) Injil Yesus yang asli lalu menjadikannya seperti yang dipercayai Kekristenan, merupakan sebuah klaim basi dan tanpa dasar historis sama sekali.

Klaim basi tanpa dasar historis di atas selalu dikumandangkan oleh Muslims di seluruh dunia sampai sekarang. Kita bisa memahaminya. Apalagi yang mereka bisa lakukan kecuali menelorkan dan membunyikan klaim basi di atas secara berulang, meskipun mereka tidak dapat mempresentasikan satu pun bukti sejarah untuk mendukung klaim tersebut? Mereka tidak memiliki pilihan lain selain menggabungkan diri ke dalam kebohongan demi kebohongan. Jika tidak, Qur’an dan Muhammad harus dianggap sebagai sebuah penyimpangan maha serius terhadap Injil Yesus Kristus. More

Klaim-klaim Islam dan Tradisi Manuskrip PB (Wawancara David Wood dengan Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D.)

Comments Off on Klaim-klaim Islam dan Tradisi Manuskrip PB (Wawancara David Wood dengan Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D.)

Muslims, secara tipikal, mengklaim beberapa poin berikut:

  • Kitab-kitab Injil telah diubah secara sengaja untuk menyelewengkan naskah originalnya.
  • Naskah original Kitab-kitab Injil seharusnya memuat informasi bahwa Yesus tidak disalibkan, Yesus tidak bangkit dari kematian, dan bahwa Yesus tidak mengklaim diri-Nya ilahi.
  • Para sarjana Muslim modern, merujuk kepada studi Bart D. Ehrman mengenai kritik tekstual PB, kemudian memasukkan asumsi Islamik mereka ke dalam studi tersebut, sambil berpikir bahwa Ehrman membantu mereka mendapatkan dukungan bagi klaim-klaim di atas.

More

Diskrepansi Pengisahan dan Historisitas Penyaliban Yesus

Comments Off on Diskrepansi Pengisahan dan Historisitas Penyaliban Yesus

Akhir-akhir ini saya banyak menyimak rekaman-rekaman perdebatan mengenai penyaliban Yesus di Youtube. Saya mengamati sebuah strategi berargumen yang menarik dari kalangan apologet Muslim dalam rangka menolak historisitas (kesejarahan) penyaliban Yesus adalah dengan berkutat pada detail-detail pengisahan di sekitar narasi-narasi penyaliban Yesus dalam Kitab-kitab Injil. Mereka mengajukan detail-detail yang menurut mereka tidak harmonis satu sama lain, sebagai indikasi bahwa penyaliban Yesus tidak pernah terjadi.

Ada kekecualian, semisal Shabir Ally sama seperti Ahmed Deedat percaya bahwa Yesus disalib, namun tidak mati melalui penyaliban. Tetapi, pandangan Deedat dan Ally, bisa dikatakan bukan merupakan pandangan mayoritas Muslim. Meski demikian, Ally juga menggunakan strategi yang sama, yaitu memberi perhatian terhadap diskrepansi detail-detail pengisahan di sekitar narasi penyaliban dan kematian Yesus lalu menyimpulkan bahwa Yesus tidak mati melalui penyaliban. Termasuk juga Louay Fatoohi dalam bukunya: The Mystery of the Crucifixion. More

Konsili Nicea: Yesus Diangkat Menjadi Tuhan

Comments Off on Konsili Nicea: Yesus Diangkat Menjadi Tuhan

Mitos tentang Konsili Nicea beredar luas di kalangan non-Kristen, terutama di kalangan Islam (dan ironisnya mereka mempercayainya sungguh-sungguh; mereka memang tidak terbiasa belajar, hanya seperti burung yang disuap!). Mitos itu adalah bahwa Konsili Nicea (325 M) merupakan titik sauh di mana Yesus diangkat menjadi Tuhan. Menurut mitos ini juga, ketika Kaisar Konstantinus menjadikan Kekristenan sebagai agama negara, orang-orang Kristen menggunakan kekuasaan politik untuk menyingkirkan lawan-lawan mereka. Dan ketuhanan Yesus dideklarasikan saat itu, seakan-akan Yesus baru jadi Tuhan pada tahun 325 M.
 
Mitos di atas paling sering didengungkan oleh Insan Mokoginta dan Irena Handono, dua pseudo-historians (sejarahwan palsu atau yang pura-pura pintar sejarah!), sering bertanya begini: “Sejak kapan Yesus jadi Tuhan?What a stupid question!

More

“Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Comments Off on “Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp (baca tinjauan umum saya di sini)

Karena Seeking Allah, Finding Jesus adalah sebuah eksodus spiritual, keluar dari Islam kepada Kristen, maka adalah sah bagi para pembaca untuk berharap menemukan lontaran-lontaran mengenai keyakinan-keyakinan teologis yang membuat Qureshi dulunya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar, dan Kristen adalah agama yang salah.

Ringkasnya, dalam perspektif teologi Islam, pokok-pokok apa saja yang membuat mereka melihat teologi Kristen sebagai kesalahan? Kita berharap mendapatkan keberatan-keberatan yang real (nyata) dan representatif mengingat penulisnya, Nabeel Qureshi, adalah seorang eks Muslim yang saleh dan memahami dengan baik teologi Islam serta keberatan-keberatan mereka terhadap Kristen. More

“Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity” (Tinjauan Buku)

Comments Off on “Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity” (Tinjauan Buku)

Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp.

seeking-allah-finding-jesus-banner

“Seeking Allah, Finding Jesus” adalah sebuah autobiografi, sebuah buku yang ditulis dengan gaya bercerita mengenai perjalanan spiritual Qureshi. Qureshi adalah eks Muslim yang More

Older Entries

%d bloggers like this: