Home

Belajar dari Khotbah Karl Barth (1886-1968)

Comments Off on Belajar dari Khotbah Karl Barth (1886-1968)

Nama Karl Barth bukanlah nama yang “menyenangkan” bagi mayoritas kaum Injili dan Reformed. Meski Barth sendiri menyebut dirinya bahkan teologinya dengan sebutan “Injili”. Saya memahami itu dengan baik, khususnya ketika kita berbicara mengenai orthodoksi.

Terlepas dari itu, saya melihat bahwa kita dapat belajar sesuatu yang baik dari Barth sebagai seorang pastor (gembala). Dan hal ini menjadi semakin menarik ketika kita memahami konteks di mana Barth hidup dan melayani.

Pada era tahun 1930an, kita mengetahui bahwa anti-Yudaisme begitu menguat di Jerman. Hitler mempropagandakan hal ini dan tidak sedikit orang-orang Kristen yang setuju dengan Hitler pada masa itu. Sebuah propaganda yang berujung genosida terhadap jutaan nyawa orang Yahudi di Jerman pada masa Hitler. More

Penyakit Telinga Gatal: Refleksi atas Yohanes 6 dan 2 Timotius 4:1-5

Comments Off on Penyakit Telinga Gatal: Refleksi atas Yohanes 6 dan 2 Timotius 4:1-5

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: 2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. 5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2Tim. 4:1-5)

More

Pendekatan Surat Kabar dalam Menafsirkan Kitab Wahyu: Sebuah Kebebalan dan Ketidakmungkinan Interpretif

Comments Off on Pendekatan Surat Kabar dalam Menafsirkan Kitab Wahyu: Sebuah Kebebalan dan Ketidakmungkinan Interpretif

Sampai saat ini, beragam pendekatan terhadap Kitab Wahyu yang kita kenal (preteris, futuris, historisis, dan idealis) tak satu pun memadai untuk memahami Kitab Wahyu secara komprehensif. Itulah sebabnya, saya percaya bahwa untuk memahami Kitab Wahyu, diperlukan pendekatan eklektik (gabungan dari pendekatan-pendekatan ini).

Meski demikian, di samping ada kontribusi-kontribusi spesifik dari setiap pendekatan di atas berikut kelemahan-kelemahannya, ada aspek-aspek interpretif dari pendekatan-pendekatan di atas yang sudah pasti tidak mungkin bisa digunakan untuk memahami Kitab Wahyu. More

PGI, Teologi Penciptaan, dan LGBT: Respons atas Pernyataan Pastoral PGI terkait LGBT Poin 1-6

Comments Off on PGI, Teologi Penciptaan, dan LGBT: Respons atas Pernyataan Pastoral PGI terkait LGBT Poin 1-6

Dalam “Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT,” poin 1-6, teologi penciptaan, khususnya fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1-2) dijadikan acuan untuk seruan pastoralnya supaya kita menghindari “segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah” (Poin 3). Secara implikasi, semua bentuk abuses ini merupakan kontradiksi terhadap teologi penciptaan. Tidak ada alasan untuk membantah penarikan implikasi seperti ini. Saya setuju dengan poin ini!

Tetapi, yang mengherankan adalah, PGI cukup awas untuk melihat implikasi penting di atas, namun tidak melihat implikasi apa pun soal LGBT dalam teologi penciptaan, seperti yang ditulis PGI berikut ini: More

Mari Kita Pakai Logika Ayam Saja

Comments Off on Mari Kita Pakai Logika Ayam Saja

Kadang saya senyum-senyum saja; kadang saya jengkel juga mendengar orang berkata: “Kalau baca firman Tuhan jangan pakai logika manusia.” Biasanya saya tidak tahan untuk nyeletuk: “Kalau begitu kita pakai logika ayam saja?

Biasanya juga mereka berbicara tentang hal-hal ajaib semisal mukjizat dan menyatakan, “Memang kalau dimengerti pakai logika manusia, yang beginian tidak masuk akal.” What? Apanya yang tidak masuk akal? Kalau Tuhan itu Mahakuasa dan memang DIA Mahakuasa, mukjizat itu bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Justru tidak masuk akal kalau Tuhan itu Mahakuasa tapi tidak bisa atau tidak pernah melakukan mukjizat. More

Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat sebagai Kualifikasi seorang Pemberita Firman (2Tim. 2:15)

Comments Off on Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat sebagai Kualifikasi seorang Pemberita Firman (2Tim. 2:15)

Spoudason seauton dokimon parastesai to theo, ergaten anepaiskhunton, orthotomounta ton logon tes aletheias (Transliterasi dari GNT; 2Tim. 2:15)

“Bertekunlah untuk mempresentasikan dirimu layak bagi Allah, seorang pekerja yang tidak malu, yang menafsirkan firman kebenaran itu dengan tepat” (Terjemahan saya; 2Tim. 2:15)

Dalam tulisan ini, saya akan memberikan catatan mengenai dua pokok penting, yaitu: a) catatan eksegetis; dan b) catatan khotbah (catatan homiletic). Khotbah yang baik dan bertanggung jawab, haruslah khotbah yang lahir dari atau berdasarkan atas penyelidikan eksegetis yang baik. Anda dipersilakan untuk menggunakan catatan ini sebagai salah satu pemandu dalam menyampaikan khotbah dari teks di atas. More

Firman Allah Koq Di Dalamnya Ada Kata-kata Setan dan Manusia?

Comments Off on Firman Allah Koq Di Dalamnya Ada Kata-kata Setan dan Manusia?

Kadang-kadang, para hamba Tuhan perlu menghentikan laju mereka sejenak untuk memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi penting, yang mungkin saja muncul di benak para jemaat, namun tak pernah dibahas dalam khotbah-khotbah di Gereja. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin saja tidak dibahas karena para hamba Tuhan mengasumsikan bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sama jelasnya bagi mereka dan bagi para jemaat. Padahal tidak!

Salah satunya adalah pertanyaan di bawah ini:

Jika Alkitab adalah firman Allah, mengapa di dalamnya terdapat kata-kata Setan, kata-kata manusia, semisal Ayub dan teman-temannya, dsb.?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan penting. Bahkan jika digeluti, jawabannya bukanlah sebuah jawaban singkat dan memerlukan pengetahuan yang solid akan doktrin Alkitab (Bibliologi). More

“Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Comments Off on “Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp (baca tinjauan umum saya di sini)

Karena Seeking Allah, Finding Jesus adalah sebuah eksodus spiritual, keluar dari Islam kepada Kristen, maka adalah sah bagi para pembaca untuk berharap menemukan lontaran-lontaran mengenai keyakinan-keyakinan teologis yang membuat Qureshi dulunya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar, dan Kristen adalah agama yang salah.

Ringkasnya, dalam perspektif teologi Islam, pokok-pokok apa saja yang membuat mereka melihat teologi Kristen sebagai kesalahan? Kita berharap mendapatkan keberatan-keberatan yang real (nyata) dan representatif mengingat penulisnya, Nabeel Qureshi, adalah seorang eks Muslim yang saleh dan memahami dengan baik teologi Islam serta keberatan-keberatan mereka terhadap Kristen. More

Older Entries Newer Entries

%d bloggers like this: