Tentang Frasa πλέον τούτων (Yoh. 21:15)

Yohanes 21:15-19 memuat beberapa isu eksegetis yang diperdebatkan hingga saat ini. Di sini, saya hanya fokus membahas salah satunya yaitu perdebatan mengenai makna frasa πλέον τούτων dalam Yohanes 19:15. Ayat ini memuat pertanyaan pertama dari Yesus kepada Petrus yang berbunyi demikian: Σίμων Ἰωάννου ἀγαπᾷς με πλέον τούτων (“Simon [anak] Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada [mereka] ini?”). Yang menjadi isu di sini adalah apakah atau siapakah yang menjadi referen dari frasa πλέον τούτων?

Sebelum membahas kemungkinan-kemungkinan penafsiran terhadap frasa ini, perlu dicatat bahwa secara gramatikal (tata bahasa), kata benda τούτων di sini digunakan dalam bentuk genitif perbandingan (genitive of comparison). Selain itu, perlu dikemukakan juga bahwa dalam bahasa Yunani ada dua cara utama untuk mengekspresikan sebuah perbandingan: pertama, konstruksi yang menggunakan kata penghubung ἡ “daripada” dan menempatkan elemen kedua dari perbandingan tersebut dengan kasus yang sama dengan elemen yang pertama; dan kedua, konstruksi yang menempatkan elemen kedua dari perbandingan dalam kasus genitif tanpa menggunakan kata penghubung ἡ.[1] Jadi, nuansa perbandingan yang digunakan dalam frasa πλέον τούτων menggunakan jenis konstruksi yang kedua. Pertanyaannya adalah “lebih dari [mereka] ini” di sini merujuk kepada “apa” atau “siapa”? Continue reading

Sebuah Diskusi Santai Mengenai Konsili Nicea

Pada sebuah kesempatan, saya sempat berdiksusi dengan seorang sahabat penganut bernama Indra Wibisana. Setelah membaca ulang diskusi tersebut, saya berpikir alangkah baiknya isi obrolan kami “diarsipkan” dalam sebuah tulisan. Dalam diskusi tersebut, ada pokok-pokok penting berkenaan dengan sejarah, khususnya tujuan diadakannya Konsili Nicea (325 M) yang menurut pengalaman saya telah dipopularkan secara melenceng oleh pihak-pihak tertentu. Diskusi tersebut juga menyinggung tentang keberadaan naskah-naskah Nag Hamadi yang ditemukan tahun 1945 yang menurut beberapa pihak merupakan naskah-naskah yang sengaja disembunyikan demi menguntungkan posisi Kekristenan ortodoks. Continue reading

Sejarah Selalu Ditulis oleh Para Pemenang?

History has been written by the victors” ["Sejarah ditulis oleh para pemenang"]. Inilah adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchill [ada pula yang menyatakan berasal dari Napoleon] yang mendominasi asersi modern dan post-modern mengenai natur dari sejarah.

Apa persisnya maksud penggunaan adagium di atas? Untuk menggambarkan maksudnya, saya akan menggunakan The Da vinci Code [TDVC]-nya Dan Brown sebagai representasinya. Continue reading

Berdiskusi dengan Seorang Manipulator

Saya ingat, tidak satu dua kali bertukar komentar secara intens dalam sebuah diskusi. Di tengah-tengah diskusi, ketika argumentasi sudah tak bisa dipertahankan karena terlilit fallacies, lawan diskusi mulai memunculkan proposisi ini: “Hanya Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak”. Saya biasanya meresponsi hal ini dengan berujar: “Ya, betul sekali. Tetapi, itu non isu di sini.”

Sebenarnya memunculkan proposisi di atas dalam arena diskusi ketika topiknya bukan tentang Tuhan memiliki kebenaran mutlak atau tidak, maka seseorang sedang mengajukan sebuah proposisi red herring. Ya, red herring karena kita tidak sedang berdiskusi mengenai apakah kebenaran mutlak itu milik Tuhan saja atau bukan. Continue reading

Yesus Buta Huruf?

Catatan Awal

Ada beberapa hal penting yang perlu saya kemukakan terlebih dahulu sebelum membahas isu ini lebih lanjut.

Pertama, hindari reaksi “pokoknya”. Mayoritas orang sekadar mengasumsikan bahwa Yesus dapat membaca dan menulis tanpa dukungan argumen atau bukti-bukti sejarah yang bisa dijadikan dukungan untuk asumsi tersebut. Sikap iman yang bertanggung jawab adalah mendalami dan mengenali kesulitan-kesulitan yang ada, serta memberikan respons argumentatif yang tepat untuk kesulitan-kesulitan tersebut. Percayalah, iman yang takut atau bahkan antipati terhadap kritikan adalah iman yang lemah dan tidak layak diimani.

Kedua, ini adalah sebuah pembahasan dalam konteks studi sejarah. Apakah Continue reading

Ancient Reading

Tadi malam saya membaca sebuah esai yang sangat menarik mengenai aktivitas membaca di jaman kuno. Esai yang saya maksud ditulis oleh: L.B. Yaghjian, “Ancient Reading,” in R. Rohrbaugh (ed), The Social Scieences and New Testament Interpretation (Peabody: Hendrickson, 1996), 206-230.

Konteks penelitian Yaghjian adalah budaya literasi abad pertama Masehi di dunia Greco-Roman (Yunani-Romawi). Ia memperlihatkan, sebagaimana para penulis lainnya yang pernah saya baca tulisan mereka, bahwa budaya literasi yang menonjol pada waktu itu adalah budaya oral (lisan) yang tentu sangat berbeda jauh dengan budaya literasi kita saat ini. Continue reading

Sumber-sumber Sejarah Kuno Non-Kristen mengenai Penyaliban Yesus

Membaca Kitab-kitab Injil sambil berharap atau bahkan berupaya memperlihatkan bahwa Yesus tidak disalibkan atau disalibkan tetapi tidak mati karena penyaliban itu, sudah sangat pasti merupakan suatu kesalahan pembacaan yang sangat serius. Keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sepakat bahwa Yesus menderita dan disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus. Bahkan tidak sedikit sarjana yang percaya bahwa penekanan utama dalam penulisan Kitab-kitab Injil adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir kehidupan Yesus di bumi sebagai kulminasi (puncak) pelayanan-Nya.

Menariknya, historisitas penyaliban Yesus bukan hanya tercantum dalam sumber-sumber dari lingkungan Kristen abad pertama di atas. Beberapa tulisan Continue reading

Anteseden Kata αὐτήν dalam Ibrani 12:17, Isu-isu Riset

Bisa dikatakan, semua artikel eksegetis saya di weblog ini selalu mengandung lontaran tentang posisi eksegetis saya terhadap isu-isu yang dibahas di dalamnya. Kali ini, saya ingin melakukan hal yang sedikit berbeda. Saya hanya akan memberikan semacam arahan deskriptif guna memperlihatkan isu-isu riset yang perlu diperhatikan dan selanjutnya saya membiarkan Anda menggunakannya sebagai “kompas” untuk mencari dan menemukan kesimpulan eskegetis Anda sendiri dalam riset pribadi Anda.

Fokus tulisan ini adalah anteseden (mengenai definisi “anteseden”, lih. di sini) dari kata αὐτήν dalam Ibrani 12:17. Continue reading