Bab 2 dari The Mystery of the Crucifixion (pp. 33-38), sama seperti Bab 1, masih bertujuan untuk memperlihatkan ketidakhandalan Passion Naratives dalam Injil-injil Kanonik. Berbeda dengan Bab 1 dimana Fatoohi mengklaim empat belas pokok kontradiktif atas perbandingan isi Kitab-kitab Injil itu sendiri, dalam Bab 2 Fatoohi mengklaim adanya kesalahan informasi mengenai tradisi Yahudi dalam Passion Narratives berdasarkan perbandingan dengan tradisi Rabbinik, khususnya prosedur-prosedur pengadilan dalam Misnah.[1] Di sini ia mencatat 10 poin presentasi tradisi pengadilan yang menurutnya berkontradiksi dengan prosedur pengadilan Yudaisme seperti yang terdapat dalam Misnah. Ia lalu menyimpulkan, “The Gospel narratives do not only contradict each other, as we saw in the previous chapter, but they are also at odds with known historical facts” (p. 38).

Akhirnya, ia menyatakan bahwa para penulis Injil tampaknya mencatat apa yang mereka kira terjadi, bukan apa yang sesungguhnya terjadi (p. 38) sambil mendukung klaim ini dengan kutipan dari Theisen dan Mertz (p. 38):

The survey of the redactional tendencies in the Easter stories shows that each Gospel has reshaped the Easter stories with motifs from its own theology. These stories comprise not just an account of the Easter experience but also further experiences of Easter down to the time of the evangelists (Theissen & Merz, 1999: 495).

Saya tidak tertarik membahas kesepuluh poin yang dicatat Fatoohi secara detail di sini. Seperti yang saya indikasikan pada catatan kaki no. 1, upaya semacam ini bukan baru. Dan mungkin bisa dipahami dalam konteks yang berbeda. Namun menggunakan pendekatan ini dalam konteks pembahasan mengenai historisitas penyaliban Yesus adalah upaya red herring persis sama dengan yang dilakukan Fatoohi dalam Bab 1. Maka, saya justru tertarik mengomentari bagaimana Fatoohi mengkonstruksi argumennya dalam bab ini ketika ia membandingkan antara materi-materi dalam Misnah dan the passion narratives.

Pertama, penting untuk dicatat bahwa Misnah merupakan corpus iuris Yudaisme yang baru dibukukan sesudah tahun + 200 M.[2] Meskipun di dalamnya terdapat materi-materi yang predate Kitab-kitab Injil (mis. tradisi oral dari Hillel dan Shammai), namun ingat bahwa dalam bentuk finalnya, Misnah berisi koleksi tradisi legal yang sudah berbaur dengan materi-materi legal dari para Rabbi pasca penulisan Kitab-kitab Injil hingga perkiraan tahun pembukuan di atas.[3] Itulah sebabnya, Instone-Drewer menyatakan bahwa tradisi-tradisi Rabbinik ini “…does not appear to be very useful for historical information” walau secara selektif tradisi-tradisi Rabbinik ini bermanfaat untuk digunakan.[4] H. Danby bahkan menulis sebuah esai khusus mengevaluasi pendekatan semacam yang digunakan Fatoohi dalam menilai pengadilan Yesus seperti yang terdapat dalam Kitab-kitab Injil. Danby menyimpulkan bahwa merujuk kepada Misnah untuk menilai pengadilan Yesus merupakan upaya yang “…little or no value as a picture of native law as practised during the period in question.”[5] Jadi, Fatoohi sedang membawa dirinya ke dalam bahaya anakronisme ketika ia memparalelkan begitu saja prosedur-prosedur legal dalam Misnah dengan catatan Kitab-kitab Injil.[6]

Kedua, kesimpulan yang ditarik Fatoohi merupakan hasil dari sebuah sesat pikir (logical fallacy) di mana ia membingungkan antara apa yang seharusnya dengan kenyataannya. Prosedur-prosedur pengadilan dalam tradisi legal Yudaisme Rabbinik adalah prosedur-prosedur yang seharusnya (fair trial). Di sisi lain, Kitab-kitab Injil memberi indikasi bahwa pengadilan Yesus adalah pengadilan yang tidak sah. Satu contoh saja, seperti yang juga dikutip oleh Fatoohi (p. 34), Markus 14:56-59 tercatat demikian:

Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain. Lalu beberapa orang naik saksi melawan Dia dengan tuduhan palsu ini:  “Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.” Dalam hal inipun kesaksian mereka tidak sesuai yang satu dengan yang lain.

Lalu dalam Markus 14:63 tercatat bahwa Imam Besar itu mengoyakkan jubahnya setelah mendengar jawaban Yesus sambil berseru: “Untuk apa ada saksi lagi?” Menurut Misnah, seperti yang dicatat Fatoohi, putusan bersalah itu invalid tanpa konfirmasi para saksi.[7] Kesalahan Fatoohi adalah ia mengharapkan Markus mencatat apa yang seharusnya supaya cocok dengan prosedur fair trial dalam Misnah, padahal Markus melaporkan kenyataan mengenai pengadilan Yesus waktu itu. Pada kenyataannya, pengadilan Yesus adalah pengadilan yang tidak adil dan terkesan hanya formalitas belaka. Danby menyatakan bahwa membandingkan kemudian membuat justifikasi negatif mengenai catatan pengadilan Yesus oleh para penulis Injil, sebuah proses peradilan yang dilakukan seadanya, dengan corpus iuris Yudaisme di kemudian hari (Misnah), merupakan sesuatu yang “pointless”.[8]

Lagi pula, Fatoohi tidak cermat membaca teks di atas bahwa memang mereka menghadirkan para saksi untuk memenuhi prosedur fair trial. Sementara itu, menurut konteksnya, kata-kata Imam Besar di atas dilontarkan setelah para saksi dihadirkan; Yesus diminta memberikan jawaban atas keterangan para saksi itu (Mrk. 14:60); Yesus menjawab, “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit” (Mrk. 14:62). Kata-kata Yesus inilah yang membuat Imam Besar itu berseru: “Untuk apa ada saksi lagi?” Fatoohi menarik kesimpulan yang salah dari kata-kata Imam Besar tersebut seakan-akan kata-kata itu mengindikasikan bahwa pengadilan itu tidak perlu saksi sama sekali!

Ketiga, Fatoohi membuat klaim dengan kutipan yang ia anggap mendukung klaimnya padahal sebaliknya. Fatoohi mengklaim bahwa para penulis Injil memiliki “limited knowledge” maka mereka hanya mencatat apa yang “must have happened”  ketimbang “what really happened” (p. 38) lalu mendukung klaim ini dengan kutipan dari Theissen dan Merz. Tetapi, seperti yang saya kutip langsung di atas, bukan ini yang dikatakan Theissen dan Merz. Yang dikatakan Theissen dan Merz adalah bahwa narasi-narasi itu mengandung pengalaman para penulis Injil dan motif teologis mereka. Theissen dan Merz tidak menyangkali adanya bias, namun mereka tidak bersikap totally negative atas The Passion Narratives.[9]

Secara keseluruhan, saya membaca tulisan Gerd Theissen dan Annette Merz, The Historical Jesus, yang dikutip Fatoohi, dan saya menemukan kesimpulan yang sangat bertolak belakang dengan tendensi Fatoohi. Thiessen dan Merz mengalokasikan satu bagian khusus untuk menolak setidaknya tiga belas argumen yang menganut skeptisisme mutlak atas sejarah mengenai Yesus.[10] Thiessen dan Merz percaya bahwa Yesus disalibkan bahkan mendaftarkan pemasangan papan bertuliskan “Raja Orang Yahudi” pada salib Yesus sebagai salah satu dari dua belas fakta historis dalam buku ini mengenai Yesus.[11] Keduanya bahkan memberi judul pada Bab 14: “Jesus as Martyr: The Passion of Jesus”.

Menariknya juga, Fatoohi mendaftarkan tulisan E.P. Sanders berjudul: The Historical Figure of Jesus sebagai salah satu sumber rujukannya di bagian daftar pustaka.[12] Entah Fatoohi membaca seluruh buku ini atau tidak, atau ia membaca seluruhnya namun mengabaikan bagian penting dari buku ini yang relevan dengan isu yang dibahasnya, saya justru mendapati Sanders menolak upaya tendensius Fatoohi. Secara keseluruhan buku ini ditulis dengan gaya rekonstruksi naratif. Dan dalam Bab 16 buku ini, bab berjudul: Jesus’ Last Week, tidak memperlihatkan keraguan sedikit pun akan historisitas penyaliban dan kematian Yesus di salib. Sanders mengakhiri bab ini dengan menyatakan: “After a relatively short period of suffering he dead, and some of his followers and symphatizers hastily buried him.”[13]

Oleh karena itu, mengakhiri ulasan evaluatif ini, saya ingin menarik perhatian kita kepada tulisan lain dari E.P. Sanders. Penting untuk dicatat di sini bahwa Sanders adalah seorang pakar PB, pakar Palestinian Judaism dan pakar studi Yesus Sejarah. Dalam bukunya yang sangat terkenal: Jesus and Judaism, khususnya ketika membahas mengenai kematian Yesus, Sanders juga mengklaim sulit menerima beberapa catatan spesifik di sekitar Passion Narratives.[14] Namun mengawali ulasannya mengenai kematian Yesus, Sanders menegaskan:

We should begin our study with two firm facts before us: Jesus was executed by the Romans as would-be ‘king of the Jews’, and his disciples subsequendy formed a messianic movement which was not based on the hope of military victory.[15]

Lalu Sanders menyimpulkan ulasannya dengan sebuah penegasan ulang: “First, we recall the surest facts: Jesus was executed by the Romans…”.[16] Risetnya mengantar Sanders kepada kesimpulan bahwa putusan mati, serta realisasinya dalam penyaliban yang membawa kematian Yesus adalah fakta sejarah yang sangat meyakinkan, walau tidak seluruh catatan Kitab-kitab Injil (Passion Narratives) diakuinya handal secara historis!

Dengan merujuk kepada argumen Theissen & Merz serta Sanders di atas, saya tidak bermaksud menyatakan bahwa Fatoohi harus sepakat dengan sumber-sumber yang dirujuknya. Maksud saya adalah Fatoohi tiba pada kesimpulan yang sangat naif tanpa memperlihatkan argumen interaktif apa pun dengan argumen-argumen historis yang penting dari sumber-sumber yang dirujuknya. Ia hanya mencaplok bagian-bagian yang ia rasa cocok dengan kesimpulannya tanpa memperhitungkan bagian-bagian itu di dalam keseluruhan argumen para pakar di atas. Kelihatannya ada yang sedang menggunakan jurus cherry-picking di sini!

Sekarang saya menjadi sangat yakin bahwa kedua bab pertama buku Fatoohi ditulis dengan all-or-nothing approach. Seperti yang sudah saya kemukakan dalam evaluasi Bab 1, demi argumen, bahkan ketika orang menerima kesimpulan bahwa ada kontradiksi dan ada kesalahan penyajian data historis dalam Kitab-kitab Injil pun, orang tetap dapat tiba pada kesimpulan yang sangat meyakinkan mengenai historisitas eksekusi Yesus melalui penyaliban yang menyebabkan kematian-Nya. Contoh paling jelas untuk hal ini, selain sejumlah nama pakar yang sudah saya sebutkan dalam evalusi Bab 1, adalah Theissen & Merz dan Sanders di atas!

[1] Fatoohi memang tidak sendiri di sini. Upaya semacam ini sudah terlihat sejak abad ke-19, mis. H. A. Bleby The Trial of Jesus Christ Considered as a Judicial Act (London: SPCK, 1880); A. T. Innes The Trial ofJesus Christ: A Legal Monograph (Edinburgh: T&T Clark, 1905; Septimus Buss The Trial of Jesus, Illustrated from Talmud and Roman Law (London: SPCK, 1906; M. Brodrick The Trial and Crucifixion of Jesus Christ of Nazareth (London: SPCK, 1908).

[2] Mengenai penanggalan pembukuan Misnah, lih. Gunter Stemberger, “Dating Rabbinic Traditions,” in Reimund Bieringer, et al (eds.), The New Testament and Rabbinic Literature (Leiden: Brill, 2010), 82.

[3] Lih. D. Instone-Drewer, “Rabbinic Traditions and Writings,” in Joel B. Green, Jeannine K. Brown, and Nicholas Perrin (eds.), Jesus and the Gospels (2nd ed.; Downers Grove, Illinois: IVP, 2013), 757-767.

[4] Instone-Drewer, “Rabbinic Traditions and Writings,” 757.

[5] H. Danby, “The Bearing of the Rabbinical Criminal Code on the Jewish Trial Narrative in the Gospels,” in Craig A. Evans (ed.), The Historical Jesus: Vol. III – Jesus’ Mission, Death, and Ressurection (London and New York: Routledge, 2004), 199-221 (kutipan langsung di atas diambil dari hlm. 221).

[6] Danby mencatat sejumlah perbedaan isi Misnah dan situasi Yudaisme abad pertama, dalam: “The Bearing of the Rabbinical Criminal Code on the Jewish Trial Narrative in the Gospels,” 215-216.

[7] Fatoohi perlu mengkonsutasikan kesimpulan di atas dengan, misalnya, tulisan: A.N. Sherwin-White, “The Trial of Christ in the Synoptic Gospels,” in The Historical Jesus: Vol. III – Jesus’ Mission, Death, and Ressurection, 224-237.

[8] Danby, “The Bearing of the Rabbinical Criminal Code on the Jewish Trial Narrative in the Gospels,” 221.

[9] Lih. Gerd Theissen and Annette Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide, trans. John Bowden (London: SCM Press, 1999), Chp. 14.

[10] Theissen and Merz, The Historical Jesus, Chp. 4: “The Evaluation of the Sources: Historical Scepticism and the Study of Jesus”.

[11] Theissen and Merz, The Historical Jesus, 458.

[12] E.P. Sanders, The Historical Figure of Jesus (London: Penguin, 1993).

[13] Sanders, The Historical Figure of Jesus, 275.

[14] E.P. Sanders, Jesus and Judaism (Philadelphia: Fortress, 1985), 297-299.

[15] Sanders, Jesus and Judaism, 294.

[16] Sanders, Jesus and Judaism, 317.